Thursday, April 15, 2010

Tren Baru, Bekerja di Rumah

Judul Buku: KERJA DI RUMAH EMANG 'NAPA?
Penulis: Anang Y.B
Tebal: 152 + xxiii halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2009
ISBN: 978-979-22-5104-3

Tidak dapat dipungkiri bahwa bekerja tanpa kantor atau bekerja di rumah  menjadi tren baru saat ini. Faktor keluwesan dalam mengatur waktu kerja menjadi salah satu alasannya. Tentu ada faktor-faktor lain seperti ingin bekerja sambil mendampingi proses perkembangan anak-anak, bebas dalam berkreasi, menentukan sendiri besarnya penghasilan, bekerja bebas tanpa disuruh-suruh bos dan sebagainya.

Sederet alasan melatar belakangi banyak orang untuk memilih bekerja di rumah. "Jika ada seribu orang yang bekerja di rumah, bisa jadi ada seribu alasan pula yang bisa kita kumpulkan atas pertanyaan: Mengapa mereka memilih mencari uang dari rumah?" (Halaman 3).

Penulis, Anang Y.B. sangat jeli melihat tren yang terjadi belakangan ini. Dengan modal pengalaman pribadi dan orang-orang yang pernah ditemui, dia menulis buku ini. Buku "KERJA DI RUMAH EMANG 'NAPA?"  bisa menjadi panduan bagi siapa saja yang berkeinginan mencari nafkah dari rumah. Tidak sedikit karyawan kantoran yang mulai melirik peluang tersebut. Namun minimnya pengetahuan membuat mereka ragu untuk memulainya.

Pada halaman 4 buku ini, Anang Y.B. akan memandu bagaimana untuk memulai bekerja dari rumah. Ada tiga alternatif yang disodorkan. Alternatif pertama adalah tetap bekerja pada orang lain, kedua berkolaborasi dan ketiga jalan sendirian. Alternatif mana yang cocok? Tergantung dari kesiapan masing-masing pribadi.

Pembaca juga akan mendapat suntikan motivasi agar bisa menjadi orang yang sukses. Semua kesuksesan berawal dari mimpi. Meski terdengar klise namun hal itu benar adanya. "Tanpa mimpi, bisa jadi saya akan menyerah saat penerbit mengatakan naskah saya akan diterbitkan tahun depan saja. Ya, keinginan kuat yang muncul dari impian dan tidak kita biarkan terembus oleh angin bisa menjadi pendorong kita untuk sesegera mungkin menjadikan mimpi itu nyata". (Halaman 15).

Bagi pembaca yang selama ini merasa kurang percaya diri karena bekerja tidak sesuai dengan pendidikan, akan diyakinkan bahwa hal itu bukanlah persoalan. Di Solo, ada sebuah warung makan lesehan yang selalu ramai dipadati pengunjung. Satu hal yang menarik adalah sepasang suami istri pemilik warung itu. Suaminya adalah seorang sarjana hukum, sementara istrinya lulusan akademi sekretaris. "Bekerja tidak sesuai gelar, emang 'napa?" (Halaman 17-18).

Satu hal penting yang perlu diingat kalau ingin bekerja di rumah adalah untuk merubah mindset. Mindset seorang karyawan kantoran sangat berbeda dengan orang yang bekerja di rumah.  Beli seribu dijual sejuta. Itulah salah satu contoh mindset orang  yang bekerja di rumah dan mungkin tak pernah terpikirkan oleh karyawan kantoran.

Setelah keraguan untuk bekerja di rumah sudah terjawab dan mindset sudah diseting ulang, kini giliran mencari ide bisnis apa yang tepat. Pada bagian 2 buku ini,  diuraikan beberapa ide bisnis yang bisa dijalankan dari rumah. Mulai dari agen koran dan majalah, hobi yang ditekuni, agen kliping digital hingga membuka kursus.  Beberapa contoh tersebut hanyalah sebagian dari ribuan ide bisnis lain yang bertebaran. Tinggal kejelian dan kreatifitas dalam mencari serta menangkap ide-ide itu untuk segera ditekuni.

Jika sudah mantap memilih dan menjalankan bisnis dari rumah, langkah berikutnya adalah membesarkannya. Beberapa hal perlu dilakukan untuk membesarkan usaha. Mulai dari mengatur jam kerja, membangun komunitas baik offline maupun online, bagaimana bernegosiasi dan mencari modal usaha hingga masalah promosi. Semua hal itu akan dikupas pada bagian 3 buku ini mulai dari halaman 60 hingga 121.

Untuk lebih meyakinkan pembaca, Anang Y.B. memberi contoh kisah sukses pelaku bisnis rumahan (Bagian 4). Pada bagian ini menceritakan tentang kisah sukses seorang pelaku bisnis rumahan bernama Novi Trihastuti. Ibu dari dua anak itu sukses menjalankan bisnis batik Cirebon. Kenapa Batik Cirebon? Karena dia dilahirkan di Cirebon. Sering kali ide bisnis memang begitu dekat dan sederhana. Hanya orang-orang kreatif dan jeli  yang  mampu melihatnya.  

Pesan terakhir dari buku ini adalah Action Time, saatnya bertindak. Bisnis itu ada di alam nyata yang perlu adanya tindakan, bukan hanya rencana. Sebuah rencana yang tersusun rapi dan penuh perhitungan tak akan ada artinya jika tanpa tindakan segera. Maka pesan buku ini sangat jelas, segera bertindak setelah selesai membacanya.

Buku ber-cover warna kuning dengan gambar seorang ayah dan dua anaknya layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mencoba usaha sendiri di rumah. Apalagi para karyawan kantoran yang sudah merasa jenuh atau kariernya mentok, sangat disarankan membaca buku ini. Siapa tahu kesuksesan justru akan datang dari rumah.


Tulisan ini telah ditayangkan di KabarIndonesia

No comments: