Sunday, March 25, 2012

Ketika Saya Tertarik Menulis

Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang, meski tak sama namun tak dapat dipisahkan. Orang bisa membaca bisa karena ada yang menulis. Begitu juga menulis bisa terlaksana karena ada yang membaca. Meski demikian, tidak semua pembaca menyadari keberadaan dan pentingnya penulis. Beda dengan penulis yang senantiasa menyadari keberadaan dan pentingnya pembaca. Tanpa pembaca, penulis tak ada artinya.

Sejak mengenal huruf a sampai z saat kelas satu sekolah dasar, saya sudah senang membaca. Membaca apa saja, mulai dari buku pelajaran, buku cerita hingga surat kabar dan majalah. Karena orang tua saya bukanlah orang yang mampu, maka yang saya baca adalah Koran dan majalah bekas. Kegemaran membaca itu tetap terpelihara hingga dewasa saat sudah bekerja.

Namun bertahun-tahun menjadi pembaca, tak pernah terbersit di pikiran untuk menulis. Padahal kalau menengok jauh ke belakang, dulu saya sebenarnya suka mengarang. Saya selalu senang mengerjakan tugas mengarang saat kelas enam sekolah dasar dan kelas satu sekolah menengah pertama. Di masa itu, pelajaran bahasa Indonesia selalu menyertakan tugas mengarang ketika pelaksanaan tes hasil belajar atau ujian semester sekarang. Saat kelas tiga sekolah menengah pertama saya juga pernah mengikuti lomba mengarang tingkat kabupaten. Meski tak berhasil meraih juara, namun setidaknya hal itu memperlihatkan bibit menulis yang saya miliki. Sayangnya saya tak pernah menyadari hal itu.

Sampai suatu saat, saya membaca sebuah artikel di Koran Republika tanggal 11 Juli 2003 berjudul “Ada Cerpenis di Lantai VI”. Artikel yang ditulis oleh Irwan Kelana itu menceritakan tentang kegiatan beberapa pemuda karyawan gedung Depdiknas. Mereka adalah Poniran, Gunadi, Muslim, Sarno dan Marzuki. Hanya dengan bekal ijazah SMA, mereka memberanikan diri mengadu nasib di Jakarta. Siang hari mereka bekerja sebagai office boy dan  satpam, malam hari mereka gunakan untuk belajar menulis cerpen. Mereka belajar kepada seorang cerpenis senior, Hudan Hidayat.

Selain mengajarkan menulis cerpen, Hudan Hidayat juga menyuntikan motivasi kepada mereka. “Kemajuan dan perubahan bisa digapai lewat penciptaan kreatif. Kalian bukan pegawai negeri. Nah kalian bisa menggapai itu melalui kegiatan menulis cerpen”. Demikian pesan Hudan Hidayat kepada mereka. 

Selesai membaca artikel itu, saya penasaran. Saya ulangi lagi membacanya, memang menarik.  Ketertarikan tak lepas dari kondisi saya yang tak jauh berbeda dengan para cerpenis muda itu. Hanya lulus SMA dan bekerja sebagai karyawan kelas bawah membuat masa depan tidak jelas. Mau minta naik gaji sulit, mau naik pangkat juga rasanya berat. Karir saya sudah mentok. Sampai kapan pun akan tetap begini-begini saja.

Setelah membaca dua kali artikel itu, saya pun mengamini apa yang dikatakan Hudan Hidayat. “Kemajuan dan perubahan bisa digapai lewat penciptaan kreatif”. Untuk menggapainya yaitu dengan cara menulis. Itulah awal mula ketertarikan saya terhadap dunia tulis menulis. Sejak saat itu, saya mulai rajin belajar dan rutin menulis. Menulis apa saja, tak peduli bagus atau jelek yang penting menulis dan terus menulis.

No comments: