Wednesday, June 27, 2012

Pranoto Mongso

Beberapa hari belakangan, kurang lebih dua minggu ini, hujan sudah tak turun. Siang hari terasa begitu panas terik menyengat. Sore hingga malam angin berhembus seperti pertanda kemarau telah tiba. Namun jaman sekarang tidak mudah untuk memperkirakan kapan kemarau dan kapan musim hujan.

Berbeda dengan dulu di tahun delapan puluhan atau sebelumnya. Ingat pelajaran SD, Indonesia sebagai negara katulistiwa hanya punya dua misum. Musim kemarau April – Oktober, musim hujan November hingga Maret. Begitu setiap tahun selalu nyaris tepat. Kalau pun meleset hanya kisaran satu dua minggu saja.

Di kampung, orang tua-orang tua kita dulu lebih paham dan hafal membaca tanda-tanda alam. Mereka tidak menggunakan kalender Masehi, Hijriah atau pun penanggalan lainnya. Untuk menandai perubahan alam mereka menggunakan Pranata Mangsa. Pranata Mangsa atau aturan waktu musim biasanya digunakan oleh para petani di pedesaan.

Pranata Mangsa terdiri dari 12 periode mulai dari Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasepuluh, Desta dan Saya. Masing-masing periode mangsa punya tanda-tanda alam yang khas. Misalnya Mangsa Kasa, ditandai dengan daun-daunan berjatuhan, belalang masuk ke tanah. Pada masa ini para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan mulai menanam palawija.

Saya teringat saat masa kecil di kampung dulu, sekitar tahun 70-an hingga 80-an. Ada masa di mana setiap hari angin berhembus kencang. Namun cuaca cukup kering dan tak turun hujan. Di masa seperti itu biasanya orang-orang kampung termasuk saya suka mencari jamur yang bermunculan di kebun. Jamur Wulan, Bulan orang kampung menyebutnya. Salah satu jamur yang enak dimanak. Orang tua menyebutnya masa itu adalah mangsa Kawolu.

Lain lagi saat mangsa Kasanga. Di masa ini gludug, petir menyambar-nyambar dengan garangnya. Terkadang hanya mendung dan turun hujan gerimis, namun petirnya bukan main. Mangsa yang paling mudah dihafal dan diingat adalah mangsa Katiga. Mangsa ini adalah musim kemarau di mana hujan sudah tak turun lagi. Kebun, Sawah dan sumur-sumur mulai kering.

Jika sumur-sumur di rumah-rumah sudah mulai kering, maka para warga mulai mandi di sungai atau di belik dan pancuran yang ada di pinggiran sungai. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, orang tua serta anak-anak saat pagi dan sore beriringan menuju sungai untuk mandi dan mencuci. Masa-masa ini adalah salah satu masa untuk bersosialisasi antar warga. Bagi yang jahil dan nakal, masa ini juga kesempatan untuk mengintip orang mandi.

Beruntung kampung saya, Kembangan, Kec. Bukateja, Kab. Purbalingga,  dilalui sungai Serayu. Sungai yang mengalir dari pegunungan Dieng di Wonosobo dan bermuara di Cilacap. Sungai itu tak bisa dilepaskan dari kehidupan para penduduk di desa tersebut. Ketika saya kecil dulu, saya bukan hanya mandi namun juga bermain di sungai itu. Bisa dikatakan, Sungai Serayu adalah sahabatku.

No comments: