Saturday, April 29, 2017

Perjalanan Ibadah Umrah Bagian 4

Perjuangan ke Raudhah

Saat makan malam, Pembimbing mengumumkan kalau setelah makan malam agendanya adalah ke Raudhah. Oh iya, sebelum saya melanjutkan cerita ini, jadwal makan saat ibadah umrah adalah sebagai berikut: Makan pagi atau sarapan jadwalnya seusai sholat Shubuh, makan siang seusai sholat Dhuhur dan makan malam selepas sholat ‘Isya. 

Jadi setiap usai solat Subuh, Dhuhur dan Isya’, para jamaah langsung menuju ruang makan yang sudah ditentukan. Saat saya di Hotel Mirage Taiba, ruang makan ada di lantai M. Para jamaah tidak perlu khawatir karena travel telah menyiapkan katering masakan Indonesia. Dan penyedia katering itu siapa lagi kalau bukan orang Madura.


Usai makan malam, para jamaah masuk kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri berangkat ke Raudhah, Masjid Nabawi. Satu per satu jamaah datang berkumpul di Loby hotel. Jam setengah sepuluh malam, rombongan jamaah dipimpin pembimbing berjalan berangkat menuju Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 600 - 700 meter dari Hotel Mirage Taiba, tempat menginap. Rombongan dibagi dua, jamaah laki-laki dan jamaah perempuan.

Sesampai di Masjid Nabawi, rombongan jamaah menuju Raudhah yang terletak di sayap kanan masjid itu. Raudhah adalah sebuah tempat atau lokasi yang letaknya antara rumah  dan mimbar Rasulullah. Rumah Rasulullah kini adalah makam Rasulullah Muhammad SAW, Abu Bakar Sidiq dan Umar  bin Khatab. 

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ketika ditanya mengenai hadits:

“antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga”

Beliau menjelaskan; “Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah. Beliau menilau hadits ini hasan gharib dari Ali. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan selainnya dari jalan lain.

Di dalam Masjid Nabawi, ada sebuah tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh. Jamaah haji atau umroh yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di tempat ini. Tempat ini tak pernah sepi, menjadi tempat yang paling afdhal untuk memanjatkan doa. Tempat  itu bernama Raudhah.  

Secara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah.  Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m. Lokasi yang selalu menjadi rebutan para jamaah haji dan umroh untuk sholat dan memanjatkan doa itu dicirikan dengan karpet berwarna hijau. Sementara lokasi  lain di Masjid Nabawi berkarpet merah, selain Raudhah.

Sesampai di samping lokasi Raudhah, rombongan jamaah harus mengantri dengan puluhan bahkan mungkin ratusan jamaah lain. Petugas penjaga atau Askar memberi waktu setiap rombongan sekitar 15 menit. Saya dan jamaah satu rombongan menjadi rombongan pengantri ketiga saat itu. Artinya di depan rombongan saya masih ada dua rombongan yang sedang mengantri. 

Saat mengantri saya merasa badan tidak enak, perut kembung, tidak nyaman. Saya butuh waktu cukup lama untuk memutuskan mundur dari antrian. Saya berpikir bagaimana solat dan berdoa dengan khusyu’ kalau kondisi badang tidak nyaman. Bahkan untuk menahan wudhu dari batal saja begitu berat. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari antrian dan pulang ke kamar hotel. 

Sebelum pulang saya berpesan ke teman se kamar supaya nanti tidak dicari oleh pembimbing. Sambil jalan pulang menuju hotel, saya berencana untuk ke Raudhah besok malam. Karena itu, saat makan siang esok harinya saya mencari teman untuk ke Raudhah nanti malam. Kebetulan Pak Slamet juga mau ke Raudhah. Saya juga sampaikan ajakan ke teman-teman sekamar, namun mereka tidak mau karena mungkin mereka sudah ke Raudhah semalam.  

“Jam berapa nanti malam pak kita Raudhah,” tanya saya
“Jam 12 saja pak biar sudah agak sepian,” jawab Pak Slamet
“OK, Pak, Siap,” kata saya

Demi niat ke Raudhah, seusai makan malam, saya tidur sambil duduk. Tidur ayam mungkin kalau kata orang. Sebentar merem, sebentar melek. Saya berpikir kalau saya tidur seperti biasa, akan pulas. Saya khawatir akan kebablasan. 

Jam dua belas kurang, saya berkemas-kemas. Setelah rapi dan siap, saya keluar kamar. Tak lupa saya kantongi kunci kamar agar saat pulang nanti tak merepotkan teman untuk membukakan pitu. Tengak-tengok lorong depan kamar sepi. Tiba-tiba nongol Mas Hafid, Tour Leader rombongan keluar dari lift.

“Mau ke mana Pak?” tanya Mas Hafid
“Mau ke Raudhah Mas,” jawab saya
“Oh, saya juga baru saja dari sana. Mau ke sana sendiri pak?” tanya Mas Hafid
“Sama Pak Slamet, tapi dia belum keluar. Saya coba cek ke kamarnya deh Mas” jawab saya
 “Silakan pak,” kata Mas Hafid

Saya berjalan menuju kamar Pak Slamet di ujung lorong hotel lantai 4 itu. Saya ketuk-ketuk pintunya dan memberi salam tidak ada yang menyahut.

“Assalamu’alaikum!” “Assalamu’alaikum!”  “Assalamu’alaikum!” Tak ada yang menyahut. Saya coba intip dari pintu kamar yang tida terkunci itu. Terlihat tiga jamaah tertidur pulas. Satu tempat tidur kosong. Saya masuk ke kamar itu.

“Assalamu’alaikum, Pak Slamet, jadi nggak ke Raudhah,?” tanya saya
Sambil bergumam, Pak Slamet minta maaf tidak jadi ke Raudhah malam itu karena kakinya sakit. 

Sore harinya saat berangkat solat Ashar Pak Slamet memang mengeluh kakinya sakit. Karea cuaca yang cukup panas, para jamaah kakinya memang pada sedikit pecah-pecah. Ada yang ringan, ada yang lumayan serius. Kaki pak Slamet memang lumayan serius karena sampai sedikit mengeluarkan darah dari kaki yang pecah-pecah itu.

Akhirnya saya meninggalkan kamar Pak Slamet menuju Raudhah. Kembali bertemu Mas Hafid yang msih asyik duduk sendiri di depan kamarnya. Saya pun menyapaikan ke mas Hafid kalau Pak Slamet tidak jadi dan saya berangkat sendiri.

Saya turun ke loby dan keluar hotel menuju Masjid Nabaw sendiri. Jalanan masih ramai. Saya berpapasan dengan beberapa jamaah ibu-ibu yang satu rombongan dengan saya. Mereka rupanya baru pulang dari Masjid Nabawi. Mungkin juga dari Raudhah.

Jam 12.15 saya sampai di Masjid Nabawi. Sesampai di samping Raudhah, saya langsung masuk ke antrian. Butuh waktu sekitar setengah jam mengantri untuk bisa masuk ke Raudah. Mungkin karena jam tengah malam jadi agak sedikit sepi. Di waktu yang lain mungkin lain lagi ceritanya.

Begitu Askar mempersilakan antrian masuk, “geruduk,” puluhan orang berebut masuk. Saya mengikutinya saja. Seperti mengikuti arus gelombang saja. Alhamdulillah bisa masuk tempat yang begitu mulia itu.

Begitu masuk ke Raudah, di sana masih umpel-umpelan. Awalnya saya sudah memilih tempat paling belakang. Namun ketika beberapa orang berebut ke depan, saya mengikutinya. Akhirnya saya malah terjepit di tengah. Hanya bisa berdiri namun tidak bisa solat. Kanan, kiri, depan, belakang, rapat penuh dengan orang. Bukan hanya saya, banyak orang lain juga bernasib sama.

Untuk beberapa saat saya hanya bisa berdiri menyaksikan orang-orang solat. Di antara mereka saya perhatikan ada beberapa anak muda yang sedang melakukan solat beberapa rokaat. Selesai itu mereka bedoa, tidak lama dan kemudian keluar. Tempat mereka itulah yang akhirnya yang diambil oleh saya dan orang lain yang belum sempat melakukan solat.

Alhamdulillah. Saya besyukur untuk yang ke sekian kalinya. Solat malam beberapa rokaat kemudian berdoa. Saya tak berani solat dan doa lama-lama khawatir keburu diusir Askar. Askar rupanya lebih mentolerir jamaah yang melakukan solat. Namun tidak untuk jamaah yang berdoa terlalu lama. 

“Sholat, Sholat, Sholat,” teriak askar sambil mengamati para jamaah yang ada di Raudhah. Jika terlihat jamaah sedang berdoa dan kelamaan, tak segan-segan Askar itu akan mengusirnya.
Saya keluar dari Raudhah yang otomatis melewati makam Rasulullah menuju halaman Masjid Nabawi, sambil membaca salam dan doa.       

Saya sempatkan minum air zam-zam yang tersedia di halaman masjid Nabawi. Glek, glek, glek. Alhamdulillah.

Jam setengah dua malam saya berjalan sendiri dari Masjid Nabawi menuju hotel. Suasana Masjid Nabawi masih cukup ramai, walau tak seramai saat saya tiba jam dua belasan tadi. Saat pulang suasana jalanan meuju hotel sudah agak sepi, tidak seperti saat berangkat tadi. Saya hanya berpapasan dengan beberapa orang jamah saja. Mungkin puluhan hingga belasan orang di sepanjang jalan menuju hotel.  

Tiba di kamar hotel, saya kembali mengucapkan puji syukur.  Alhamdulillah.

No comments:

Post a Comment

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...