Thursday, May 07, 2020

Selamat Jalan Saudaraku, Surbani



Bulan Mei 1990, saya saat itu adalah seorang pemuda luntang-lantung. Setelah lulus SMA tahun 1986, saya sempat mencicipi Program PTUP Fakultas Peternakan Unsoed Purwokerto. Merasa belum siap dengan program perkuliahan di program itu, saya mundur. Menunggu Sipenmaru tahun berikutnya, 1987. Saya mendaftar di Fakultas Biologi di universitas yang sama. Alhamdulillah diterima. Namun saya hanya bertahan tiga semester menyandang status sebagai mahasiswa. Saya nggak tega lihat orang tua memaksakan diri untuk membiayai kuliah saya. Sementara adik-adik saya banyak dan mereka lebih membutuhkan biaya. Maka sejak saat itu, status saya berubah, dari seorang mahasiswa menjadi seorang pemuda luntang-lantung alias pengangguran.

Setelah kurang lebih dua tahun menjadi pengangguran, sekitar bulan Mei 1990, saudara sepupu yang pulang dari Jakarta datang ke rumah. Dia adalah Surbani atau biasa dipanggil Reban. Dia anak dari wa saya, anak kakak dari ibu saya. Saat itu dia sudah lama merantau di Jakarta, mungkin sudah lima tahun lebih. Orangnya baik, ramah dan suka menolong orang lain, terlebih saudara-saudaranya.

“Bad, mau nggak ke Jakarta?” kata dia pagi itu
“Mau. Kapan berangkatnya?” jawab saya sambil bertanya balik
“Nanti sore!,” jawab dia tegas
“Hah, nanti sore,” kata saya lumayan kaget.
“Iya, nanti sore berangkat,” kata dia meyakinkan
“Baiklah, saya bicara dulu sama Bapane dan Yayune (Bapak dan Ibu,” kata saya

Sayapun menyampaikan niat saya ke Jakarta sekaligus berpamitan kepada kedua orangtua. Kemudian saya mengemas pakaian dan keperluan lain untuk dibawa.

Tibalah sore yang dinanti. Dari rumah berjalan menuju jalan raya desa Kembangan, Purbalingga Jawa Tengah. Di dekat jembatan sungai serayu, di situ kami menunggu bis yang berangkat menuju Jakarta. Saya nggak tahu kenapa Saudara saya, Surbani nunggu bis di situ. Kenapa tidak ke loket penjualan tiket? Atau waktu itu belum ada, entahlah.

Satu bis datang, di-stop, tidak berhenti. Bis kedua datang di-stop, jalan terus. Mungkin bis itu sudah penuh, batinku. Sampailah bis yang ketiga di-stop dan berhenti, masuklah kami berdua ke bis itu.
Pagi buta kami berdua tiba di ibu kota. Deru mesin Metromini dan aroma knalpot Kopaja menyambut kedatangan kami. Dari terminal Pulau Gadung, kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Blok M. Dari terminal Blok M, kami naik Kopaja 616 menuju Cipedak, Ciganjur. Tempat yang dituju adalah Foto Copy IKA, depan kampus ISTN Srengseng Sawah Jakarta Selatan.

Di tempat inilah saya mulai belajar atau “kuliah” kehidupan. Inilah pembelajaran yang sesungguhnya. Dengan telaten, Surbani mengajari saya bagaimana mem-foto copy dokumen. Saya juga diajari laminating, menjilid, dan sebagainya. Bukan hanya soal teknik, Surbani juga mengajarkan ke saya bagaimana melayani customer (pelanggan). Juga bagaimana menghadapi komplain mereka. Di sini saya pernah merasa ketakutan dibentak mahasiswa orang Batak.

“Di sini mahasiswanya dari berbagai daerah, termasuk banyak orang Batak. Orang Batak itu memang logatnya begitu. Sebenarnya dia tidak marah, tidak membentak, tapi memang gaya bicaranya seperti itu,” kata Surbani menenangkan saya.

Suatu kali, di hari libur, Surbani mengajak saya jalan-jalan, ke Blok M kalau tidak salah. Meski tidak dia ungkapkan, saya merasa saat itu dia sedang mengajari saya bagaimana menyeberang jalan di ibukota. Seperti diketahu, cara menyeberang jalan raya di desa dan di kota memang sedikit ada perbedaan dan orang yang baru datang dari desa memang harus belajar menyesuaikan itu. Surbani juga mengajari saya bagaimana naik eskalator di mall. Maklumlah, orang baru datang dari kampung. Tapi poin-nya bukan itu. Saking baiknya, Surbani sampai mengajari hal-hal kecil sedetail itu.

Saya memang tidak lama bekerja bersama Surbani di Foto Coopy IKA di Srengseng Sawah. Hanya dua minggu dan belum sempat gajian. Seorang pelanggan menawari saya untuk bekerja sebagai pesuruh di sebuah sekolah swasta di Depok. Saya tertarik. Setelah saya ngomong dengan Surbani, dia mengijinkan. Maka sejak pertengahan Juni 1990, saya memulai petualangan baru sebagai pesuruh di sebuah sekolah swasta di Depok.

Setelah itu kami berpisah. Terkadang kami saling berkunjung. Terkadang saya datang ke Cipedak. Di saat lain Surbani datang ke markas saya di Depok. Waktu terus berlalu. Surbani berkali-kali pindah tempat kerja. Saya pun beberapa kali pindah tempat kerja. Memang masih saling berkunjung, namun sudah semakin jarang seiring kesibukan masing-masing.

Sekitar tiga tahun lalu, adik saya kasih kabar kalau Surbani sakit. Saat itu saya sempatkan menengok ke rumahnya di wilayah kampung Stangkle Depok. Meski badanya terlihat agak kurus, namun saat itu dia dalam kondisi yang agak sehat. Hal itu terbukti dengan menjemput saya di depan gang ketika saya kesasar.Saat itu Surbani menceritakan kalau dirinya kena penyakit gula. Beragam ikhtiar sudah dia lakukan, mulai dari medis hingga obat herbal.

Saya baru bertemu lagi, mungkin sekitar setahun setengah kemudian. Kondisi kesehatannya sudah agak menurun. Saat saya berkunjung ke rumahnya, dia berencana mau berobat di kampung. Dia akan dibawa ke kampung oleh kakaknya, Ruswan. Namun saat saya di rumahnya, kang Ruswan masih ada di rumah adiknya yang lain, Japar. Jadi saya tidak sempat ketemu mereka karena saya harus pulang ke Ciputat.

Setelah dirawat di kampung, kabar yang saya terima Surbani sudah sembuh dan sehat kembali. Saya memang selalu menanyakan kabar Surbani melalui adik-adik saya. Setelah itu bahkan kabarnya sudah sehat dan bekerja lagi. Saya pun berucap syukur Alhamdulillah.

Namun Allah, Tuhan Maha Kuasa berkehandak lain. Kemarin  siang (Sabtu, 2 Mei 2020), saya mendapat kabar Surbani berpulang ke Ramhatullah. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.

Sedih mendengarnya. Pikiran berputar kembali ke masa lalu. Bagaimana dia baiknya kepada orang lain, terutama kepada saudara-saudaranya. Bukan hanya saya, adik-adik saya juga bekerja di Jakarta lantaran dia yang membawa. Juga saudara-saudara yang lain. Bahkan beberapa orang lain dari kampung. Dia memang orang baik. Saya yakin, Allah Swt akan melipatgandakan amal dan kebaikannya.

Selamat Jalan Saudaraku, Surbani Bin Martasim

Semoga Allah Swt mengampuni segala dosa-dosanya, menerima semua alam ibadahnya dan semoga Khusnul Khotimah, Aamiin. 

Allahumma firlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu, Al Fatihah



Wednesday, March 25, 2020

Hantu Corona dari Wuhan



Wabah virus corona baru terus menghantui. Sejak ditemukan pertama kali akhir Desember 2019, jumlah orang yang terinfeksi virus tersebut terus bertambah. Per 15 Januari 2020, Tiongkok mengkonfirmasi bahwa orang yang telah terinfeksi virus corona baru berjumlah 14 orang. Jumlah itu terus bertambah bahkan lonjakannya begitu tinggi. Pada penguhujung bulan Januari 2020, Tiongkok mengkonfirmasi bahwa jumlah orang yang terinfeksi sebanyak 5.806 orang dan 213 diantaranya meninggal dunia.

Mencermati perkembangan kasus virus corona baru yang semakin mengkhawatirkan, pemerintah Tiongkok bertindak cepat. Kota Wuhan dan beberapa kota di sekitarnya diisolasi. Tiongkok melarang semua warga untuk keluar dan masuk ke kota tersebut. Semua warga yang tinggal di kota itu, khususnya Wuhan terjebak. Tidak bisa ke mana-mana. Tak terkecuali warga negara asing yang tinggal di sana. Warga Amerika Serikat, Jepang, Korea selatan, termasuk juga warga negara Indonesia.

Kondisi tersebut membuat negara-negara yang memiliki warga negara yang tinggal di sana cemas. Mereka ingin mengevakuasi warga negaranya untuk keluar dari kota Wuhan. Namun itu tidak mudah karena sudah ada larangan pemerintah Tiongkok untuk keluar masuk dari dan ke Wuhan  

Namun larangan Tiongkok tak membuat negara-negara itu berhenti mengupayakan evakuasi warga negaranya. Setelah melakukan komunikasi, Jepang akhirnya bisa mengevakuasi warganya 29 Januari 2020.  Ada sekitar 650 warga Jepang di Wuhan yang ingin pulang. 

Sehari berikutnya giliran Amerika Serikat berhasil mengevakuasi 200 warganya keluar dari kota Wuhan. Kemudian Korea Selatan tidak mau ketinggalan. Melalui dua kali penerbangan, Korea Selatan juga berhasil mengevakuasi 700 warganya dari ibu kota propinsi Hubei itu.

Sementara Indonesia masih ketar-ketir dan was-was karena 245 warganya masih terjebak di Wuhan. Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Tiongkok terus memantau kondisi para WNI di Wuhan yang kebanyakan adalah para mahasiswa. Pemerintah Indonesia memastikan agar kondisi kesehatan para WNI di Wuhan tetap baik. Pemerintah juga memastikan agar ketersediaan logistik bagi mereka mengingat mereka tidak bisa keluar dari asrama.

Setelah melakukan komunikasi beberapa kali antara pemerintah Indonesia dengan Tiongkok, maka akhirnya Tiongkok mengizinkan Indonesia untuk mengevakuasi warganya. Selain mengizinkan,Tiongkok juga siap memfasilitasi kepulangan WNI dari Wuhan. Pemerintah Indonesia menyewa pesawat Batik Air berjenis Airbus 330-300 milik maskapai Lion Air Group. 

Pesawat Batik Air berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu 1 Februari 2020 pukul 06.00 WIB dan diperkirakan tiba di Wuhan pukul 12.00 waktu setempat. Dari 245 WNI akhirnya hanya 238 yang bisa dievakuasi. Tiga WNI dinyatakan dalam kondisi sakit jadi tidak memenuhi syarat protokol dari pemerintah Tiongkok untuk bisa dievakuasi. Sedangkan sisanya memilih  untuk tetap tinggal di Wuhan.

Minggu, 2 Februari 2020 pukul 14.00 WIB pesawat Batik Air tiba di Bandara Hang Nadim Batam. Saat turun, seluruh penumpang disemprot dengan disinfektan. Para WNI tersebut kemudian dipindahkan ke pesawat milik TNI AU untuk kemudian diterbangkan ke kepulauan Natuna. 

Di pulau Natuna, para WNI tersebut akan menjalani karantina selama 14 hari. Usai dikarantina, mereka diperiksa kondisi kesehatannya untuk kemudian diterbangkan ke Bandara Haim Perdana Kusuma Jakarta.  Setelah itu, mereka diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing

Referensi: dari berbagai sumber

Tuesday, March 24, 2020

Wabah Virus Corona Baru


Awal tahun 2020, dunia disibukan dengan wabah virus corona. Virus itu muncul pertama kali di kota Wuhan, ibukota propinsi di daratan Tiongkok. Pada 31 Desember 2019, pejabat kesehatan Tiongkok pertama kali melaporkan munculnya beberapa kasus pneumonia. Saat itu belum diketahui virus penyebabnya. Namun jika melihat gejalanya, diduga penyebabnya adalah virus SARS.

Pada tanggal 5 Januari 2020, pejabat kesehatan Tiongkok menyatakan bahwa penyebab pneumonia itu bukan virus SARS. Dua hari berikutnya, pada 7 Januari 2020 pejabat kesehatan Tiongkok baru bisa memastikan bahwa penyebab pneumonia itu adalah virus baru dari keluarga corona. Virus itu diberi nama 2019-nCoV. Keluarga virus corona juga menyebabkan SARS dan flu biasa. Virus itu menyebar melalui batuk, bersin, atau menyentuh orang yang terinveksi.

Tanggal 10 Januari 2020, Tiongkok mengkonfirmasi jumlah pasien positif virus corona baru sebanyak 44 orang. Selain jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah di Tiongkok, virus itu juga telah menyebar ke berbagai negara. Beberana negara itu adalah Hongkong, Singapura, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea Selatan dan Iran.

Di penghujung Januari, Tiongkok mengonfirmasi jumlah orang terinfeksi sebanyak 9.096 orang dan 213 orang diantaranya meninggal dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian darurat global atas wabah patogen mematikan  yang telah menyebar ke berbagai negara itu.

Sebelumnya WHO sempat meremehkan ancaman virus corona baru ini. Namun Badan Kesehatan Dunia itu merevisi penilaian tersebut setelah membicarakan krisis tersebut pada Kamis (30/1-2020).

"Kita semua harus bertindak bersama sekarang untuk membatasi penyebaran lebih lanjut. Kita hanya bisa menghentikannya bersama," kata Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pengarahan di Jenewa, seperti dikutip Reuters.

Namun saat itu Ghebreyesus mengatakan tidak perlu untuk membatasi perjalanan dan perdagangan dengan Tiongkok untuk membendung penyebaran virus tersebut. Saat itu sudah terkonfirmasi bahwa virus corona baru telah menyebar di lebih dari 15 negara.

Banyak negara telah mendesak warganya tidak mengunjungi Tiongkok untuk sementara waktu. Beberapa negara juga telah melarang wisatawan dari kota Wuhan, ibukota propinsi Hubei, tempat di mana virus corona baru itu pertama kali muncul.

Virus corona baru mirip dengan patogen Sindrom pernafasan Akut parah atau Severe Acute Respiratory Symdrome (SARS). Wabah SARS yang muncul pada tahun 2002-2003 juga berasal dari Tiongkok. Saat itu, wabah SARS membunuh hampir 800 orang di seluruh dunia.

Tingkat penyebarannya yang begitu tinggi membuat seluruh masyarakat dunia waspada dan berhati-hati terhadap virus corona baru ini. Menurut para ahli, penyebaran virus corona baru ini melalu tetesan kecil yang keluar dari hidung atau mulut penderita.

Jika orang yang terinfeksi virus ini batuk atau bersin, maka droplet atau cairan yang keluar dari hidung atau mulut bisa menempel di berbagai benda. Jika itu disentuh dengan tangan kemudian orang itu mengusap mata, hidunt atau mulut, maka dia akan tertular. 

Karena itu agar tidak tertular, orang harus  berhati-hati dengan menjaga jarak dengan penderita. Harus sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Penderita juga diharuskan menggunakan masker sehingga tidak menularkan virus ke orang lain yang sehat.

Referensi: berbagai sumber
Foto: Kompas.com

Thursday, January 09, 2020

Rafting vs Ramonan



Senin pagi, 6 Januari 2020 Ciputat diguyur hujan. Jam setengah enam lewat sedikit, saya sudah berkemas-kemas. Dengan berpayung, saya meluncur ke Taman Kuliner Ciputat. Demi memenuhi kewajiban mengikuti kegiatan Employ Gathering. Sesampai di Tamkul (Taman Kuliner) Ciputat, baru beberapa gelintir orang terlihat di bus.

Di surat pemberitahuan tertera jam kumpul 05.00 WIB. Sedari awal saya kurang yakin dengan ketentuan waktu itu. Ini ditambah hujan deras pula. Ketika saya sudah duduk di bus, sekitar jam 06.20 baru ada informasi bahwa pemberangkatan diundur menjadi 06.30 WIB. Alasannya banyak peserta yang terkendala hujan. Ya gak kaget, wong sudah saya duga.

Jam 06.30 WIB pun masih meleset. Di bawah rintik gerimis, bus akhirnya berangkat jam 06.55 WIB menuju Arung Jeram Alamanda Caringin – Bogor. Ada dua bus yang membawa rombongan Karyawan Perguruan Islam Al Syukro Universal. Rute yang ditempuh adalah Tol Lebak Bulus menuju Tol Jagorawi.

Sekitar jam delapan lewat, bus pembawa rombongan Employ Gathering berhenti di Rest Area Sentul. Seperti biasa, untuk memberi kesempatan peserta ke Toilet. Apalagi cuaca begitu dingin. Gerimis masih terus saja mengguyur ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar sembilan lewat (kalau tidak salah), rombongan Employ Gathering Al Syukro Universal tiba di Arung Jeram Alamanda Caringin – Bogor. Panitia (EO) dari Arung Jeram Alamanda Caringin menyambut rombongan Employ Gathering Al Syukro dengan ramah dan penuh suka cita. Peserta Employ Gathering dipersilakan untuk beristirahat sejenak. Sekitar 20 – 30 menit.

Setelah beristirahat, EO Alamanda Arung Jeram meminta para peserta untuk berkumpul di areal lapangan. Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh Ustad Elan Jaelani. Dilanjutkan dengan sambutan Direktur Perguruan Islam Al Syukro Universal, Ibu Cicih Kurniasih.

Setelah itu, beragam permainan, game-game pun mulai dimainkan. Kegiatan itu berlangsung di bawah guyuran hujan yang rupanya tak mau berhenti. Semua peserta basah kuyup diguyur hujan. Kecuali saya, dengan handycam jadul Merek Sony, saya mengabadikan kegiatan itu dari Saung. Alhamdulillah. Acara berlangsung sampai sekitar jam 10.30 WIB.  

Kegiatan dilanjutkan dengan Rafting di sungai Cisadane, Caringin - Bogor. Sebelum rafting dimulai, EO memberikan pembekalan, tata cara dan tata tertib pelaksanaan rafting. Peserta diminta untuk membentuk kelompok dengan jumlah 6 orang campur laki-laki dan perempuan. EO tidak menyarankan regu terdiri perempuan semua. Hal itu untuk mengantisipasi jika terjadi kendala di lapangan. Jadi, setiap regu harus ada peserta laki-lakinya.

Sebelum terjun ke sungai Cisadane, peserta rafting menyempatkan untuk foto bersama. Saat itulah saya mencari lokasi yang pas untuk mengabadikan peserta rafting. Saya jalan beberapa puluh meter dari lokasi kumpul peserta. Dari bawah sebuah saung, saya mengabadikan teman-teman peserta rafting. Hasilnya memang tidak sempurna. Maklum, peralatan seadanya. Jadul pula. Lokasi juga tidak terlalu strategis. Tapi saya pikir gak papa. Lumayan lah.

“Pak Badiyo gak ikut Rafting?” tanya seorang teman

Sejujurnya, kalau lihat teman-teman naik perahu karet menyusuri sungai, hati saya ini gak karuan rasanya. Pikiran melayang ke masa silam. Saat usia masih belasan, hampir tiap hari saya main di sungai. Bahkan sejak masih di SD.

Rumah orangtua saya dulu memang dekat dengan sungai Serayu. Sekitar dua ratus meteran lah. Di desa Kembangan Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Kampung itu dilewati sungai yang cukup besar, Serayu. Ya, sungai yang membentang dari dataran tinggi Dieng di Wonosobo mengalir melewati wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan akhirnya bermuara di Cilacap.

Bagi saya, berenang dan bermain di sungai dulu itu biasa. Hampir setiap hari, saya bercengkerama dengan derasnya sungai Serayu. Menyeberang dari satu sisi sungai ke sisi yang lain. Loncat dari atas perengan, lalu nyebur dan berenang ke sana kemari.

Walaupun memang kondisi sungainya sedikit berbeda. Tidak ada batu-batu besar di sungai Serayu di kampung saya. Ini berbeda dengan sungai Cisadane di Caringin Bogor yang banyak batu-batu besar.
Dulu saat saya main di sungai gak pakai alat bantu apa pun. Kalau pun ada alat bantu,  paling-paling pakai ramon. Tahu apa itu ramon? Ya, ramon adalah batang pohon pisang. Satu batang pohon pisang dipotong bisa jadi dua atau tiga bagian. Ramon itulah yang dipakai anak-anak kampung untuk menyusuri sungai. Ramonan kata anak-anak di kampung saya dulu. Tapi itu jarang. Anak-anak kampung lebih sering bermain di sungai tanpa alat apapun.  

Ya, tapi itu dulu, saat saya masih usia belasan tahun. Sekarang, saya harus sadar diri. Kondisi fisik sudah jauh berubah.  Terlebih, jauh-jauh hari istri sudah wanti-wanti. “Gak usah ikut-ikut permainan ya! Permainan apa pun gak usah ikut. Inget usia kita, gak muda lagi!” pesan istri.

Terima kasih, istriku, Retno Utari sudah mengingatkan. Kalau gak, mungkin saya ini gatel liat teman-teman main rafting. Bawaannya pengin nyebur aja. Hahaha. Habis, inget dulu waktu masih anak-anak di kampung. Main di sungai itu mainan saya. Kalau kata anak sekarang, “Gue banget” itu. Hahahaha. Tapi ya sudah lah, apa boleh baut.

Saya cukup jadi penonton yang produktif. Loh, apa maksudnya penonton yang produktif. Ya, saya tidak cuma nonton doang. Sambil nonton, saya dokumentasikan teman-teman yang ikut rafting.  Meski hasilnya gak bagus-bagus amat, tapi lumayan lah. Ada dokumentasinya. Teman-teman bisa lihat di akun youtube saya, Mas Badiyo. Alhamdulillah.

Monday, December 23, 2019

Dari Tukang Foto Copy Menjadi Tukang Sapu


Halaman dan Gedung SMA Bintara Depok

Gegara seorang alumni memposting sebuah foto kenangan di grup Ikatan Alumni SMA Bintara Depok, saya jadi teringat masa di mana saya bekerja di sekolah itu. Sebenarnya pekerjaan pertama saya di ibu kota adalah operator foto copy di depan kampus ISTN Srengseng Sawah – Jakarta Selatan. Saya ikut saudara sepupu, Surbani atau biasa dipanggil Reban.

Di bulan Juni 1990, tanggalnya lupa. Saat saya baru beberapa hari bekerja di tempat itu, saya harus lembur hingga larut malam, bahkan menjelang dini hari. Dua orang pelanggan membawa ratusan ijazah siswa untuk difoto copy. Sebut saja namanya Kustriyarno, biasa dipanggil Mas Kus. Satunya lagi bernama Sukardi, biasa dipanggil Mas Kardi.

Sambil memfoto copy, mereka mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Ini memang perlu agar tidak mengantuk. Sampailah ajakan salah seorang diantara mereka, yakni Mas Kus menyampaikan pertanyaan sekaligus ajakan.

“Mau nggak kerja jadi Pesuruh di sekolahan,”? tanya Mas Kus.
“Di mana”? tanya saya balik
“Di SMA Bintara Depok,” jawab Mas Kus.
“Ehm, caranya gimana dan syaratnya apa saja,”? tanya saya
“Gampang, tinggal bikin aja surat lamaran. Lampirkan  foto copy ijazah dan foto copy KTP,” jawab Mas Kus.
“Alamatnya di mana Mas,”?    
“Di Jl. Raya Sawangan No. 19, seberang Kantor Pos Depok I. Pokoknya dari sini naik angkot 105 turun di depan Kantor Pos Depok I nanti tinggal nyeberang,” jawab Mas Kus.

Sebelum mengatakan siap, sebagai rasa hormat, saya tanyakan dulu ke saudara sepupu, Reban.
“Gimana ini ya?” tanya saya
“Silakan aja coba,” jawab Reban.

Sambil menyelesaikan foto copy, saya mengkhayal. Enak kali ya kerja di sekolahan walau pun sebagai pesuruh. Pikiran saya melayang ke belakang mengingat-ingat sosok-sosok pesuruh sekolah saat di SMP dan SMA dulu. Meski kerjanya sebagai pesuruh, tapi mereka bergaul dengan orang-orang kantoran, para guru. Juga dengan para siswa.

Beberapa hari kemudian, saya mengantarkan surat lamaran kerja ke SMA Bintara Depok. Naik angkot 105 dari depan Kampus ISTN Srengseng Sawah menuju ke Depok. Turun di jembatan dekat Kantor Pos Depok I. Saya lupa hari dan tanggalnya waktu itu. Saya hanya inget beberapa hari setelah menyampaikan surat lamaran saya dapat panggilan. Tanggal 16 Juni 1990 adalah hari pertama saya kerja di SMA Bintara Depok. 

Itulah cerita awal saya merantau dan bekerja di ibu kota Jakarta. Setelah jadi tukang foto copy selama dua minggu, saya kemudian melamar untuk menjadi tukang sapu.

Sumber Foto: Hamdan Arfani Blogspot. com



Sunday, December 08, 2019

Nikmati Tantangan dengan Penuh Suka Cita




Menjadi penanggung jawab (PJ) atau panitia sebuah kegiatan, saya kira itu hal biasa bagi setiap orang. Kalau menjadi peserta sebuah acara? Apalagi itu, lumrah banget. Mungkin kita semua pernah menjadi peserta sebuah accara. Bagaimana kalau menjadi penanggung jawab sekaligus menjadi peserta sebuah acara? Nah ini baru langka. Mungkin jarang orang merasakan pengalaman seperti itu. Saya termasuk orang yang beruntung pernah merasakan pengalaman seperti itu.

Di tempat kerja, saat ini saya tergabung dalam tim QMS (Quality Management System). Salah satu tugas tim ini adalah membuat sistem manajemen lembaga. Setelah sistem manajemen lembaga tersusun, QMS berkewajiban untuk memastikan bahwa sistem tersebut berjalan dengan baik. Tugas QMS berikutnya adalah mempersiapkan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015.


Dalam rangkaian pencapaian target dan tujuan tersebut, QMS mengadakan berbagai training dan workshop.  Training dan workshop pertama adalah Riset Kepuasan Pelanggan atau Customer Satisfaction Index (CSI) yang diadakan tanggal 12 November 2019. Kemudian kedua adalah training dan woskhop Awareness Pengelolaan Data Lembaga yang diadakan selama tiga hari, 3 – 5 Desember 2019.

Dalam kedua training tersebut, saya sebagai penanggung jawab sekaligus juga sebagai peserta. Di tim QMS hanya ada 2 (dua) orang, Manajer QMS dan saya sebagai bagian data center dan Pusdtin. Jadi saya saya tidak punya tim atau anak buah. Karenanya praktis hampir semua persiapan kegiatan training saya yang mempersiapkan. Mulai dari menyusun TOR (Term of Reference), pengajuan anggaran, menghubungi Trainer, membuat dan mengedarkan undangan, memesan konsumsi, mengajukan penyiapan ruang training dan memastikan kesiapannya, dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk kelancaran kegiatan training. Kebayang repotnya.  



Sebenarnya saya seneng sekali dengan training dan workshop itu. Saya seneng belajar dan mencari pengetahuan baru. Namun karena saya sebagai penanggung jawab kegiatan, saya jadi tidak fokus saat mengikuti training dan workshop. Pikiran saya terbagi dua, antara sebagai penanggung jawab dan sebagai peserta. Contoh, saat sedang khusuk menyimak paparan trainer, tiba-tiba seorang CSO (Cleaning Service Office) mengetuk pintu ruang training.

“Pak, konsumsi makan siang sudah datang pak,” kata CSO.

Saya terpaksa harus keluar ruangan untuk membayar konsumsi makan siang tersebut. Ya, begitulah kira-kira.


Maka jujur saja, barangkali saya hanya menyimak 50 persen materi yang dipaparkan oleh trainer. Dari 50 persen yang saya simak, mungkin saya hanya mampu menyerap 10 persen saja. Maklumlah. Saya kira hal ini gak perlu dibahas di sini. Malu-maluin aja. Hahaha.  

Terlepas dari semua itu, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia. Bisa menjadi pelaksana sebuah kegiatan sekaligus sebagai peserta. Jika anak muda sekarang mengatakan itu adalah sebuah challenge, atau tantangan, maka saya merasa telah berhasil melewati tantangan tersebut. Bahkan saya menikmati tantangan tersebut dengan gembira dan penuh suka cita. Alhamdulillah

Saturday, October 19, 2019

eSwatini, Siapa Dia?



Beberapa hari belakangan, tayangan televisi dipenuhi dengan berita persiapan pelantikan Presiden dan wakil Presiden tanggal 20 Oktober 2019. Dalam sebuah tayangan berita memperlihatkan  mobil-mobil mewah.  Kabarnya mobil-mobil mewah tersebut akan digunakan untuk mengantar tamu-tamu perwakilan negara asing yang menghadiri pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Satu diantara mobil mewah tersebut bertuliskan eSwatini.

Karena saya fokus pada tayangan dan kurang menyimak narasi yang dibacakan presentir,  saya sempat berpikir Eswatini itu nama orang. Ya, maklum, saat sekolah dasar (SD) saya pernah punya teman bernama Wartini. Saya kira eSwatini itu masih saudara dengan Wartini atau siapanya gitu.
Penasaran siapa itu Eswatini saya biasa tanya ke uwa google. Ternyata Eswatini adalah sebuah negara yang berbentuk kerajaan yang dulu bernama Swazi atau Swaziland. Owh, dari tadi kek bilang kalau eSwatini itu Swziland.

Bicara Swaziland, saya kembali lagi cerita saat saya kelas 6 SD, tepatnya SDN Kembangan 1, kecamatan Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah. Saat itu, teman saya yang bernama Wartini adalah menjadi kembang kelas, bukan bintang kelas ya. Seperti apa cantiknya Wartini sehingga menjadi idola dan bagaimana suasana memperebutkan simpatinya, insya Allah diceritakan di lain waktu ya, hehe. Kali ini saya akan cerita dulu soal saudara kembarnya, yakni eSwatini.

Seperti pernah saya cerita di kesempatan lain, saya ini paling senang dengan pelajaran Ilmu Bumi, yang kemudian diganti menjadi geografi. Saya senang belajar peta dan juga suka menghafal nama-nama negara berikut ibukotanya. Mulai dari negara-negara di benua Asia, Eropa, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam menghafal nama-nama negara dan ibukota, saya merasa paling sulit adalah nama-nama negara dan ibukota dari benua Afrika.

Dalam menghafal, tentu saya mulai dari atas ke bawah, atau dari utara ke selatan. Mulai dari Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko. Tidak perlu saya sebutkan, nama ibu kota negara Afrika Bagian Utara ini gampang dihafal. Saya yakin pembaca juga hafal. Setalah itu turun ke bawah, saya mulai merasa kesulitan menghafal. Makin ke bawah atau ke Afrika Bagian Tengah semakin sulit dihafal. Kalau Afrika Tengah bagian timur ada lah yang hafal sedikit semisal Ethiopia, Somalia, Uganda, Tanzania dan Kenya. Selebihnya gak hafal.

Memasuki ujung bawah benua Afrina alias Afrika bagian selatan, sarua keneh. Sulit dihafal. Yang paling saya hafal adalah ibukota Afrika Selatan. Saat saya kelas 6 SD, ibukota Afrika Selatan hanya satu yakni Pretoria. Loh kok hanya satu, memang sekarang? Nah ini dia, saya juga baru tahu. Ternyata Afrika Selatan kini punya tiga ibu kota, yakni Pretoria sebagai ibukota eksekutif, Cape Town sebagai ibu kota legislatif dan Bloemfontein sebagai ibukota yudikatif.

Selain Afrika Selatan, ada beberapa negara yang agak sedikit gampang dihafal karena pengucapannya. Mozambiq ibukota Maputo, Lesoto ibukotanya Maseru dan Swaziland ibukota Mbabane. Menurut saya sebagai orang Jawa, pengucapan ketiga negara di Afrika bagian selatan beserta ibukotanya itu berasa Jawa, hehe. Termasuk ketika nama Swaziland itu berubah atau punya nama lain eSwatini, ya kedengarannya Jawa. 

Makanya saya sempat mengira kalau eSwatini itu saudara kembarnya Wartini, hehe. Satu lagi yang perlu diketahui, raja eSwatini bernama Mswati, tepatnya Mswati III. Tapi ingat ya, Mswati, bukan Miswati, hehehe.

Selamat Malam Minggu, Selamat Berakhir Pekan, Salam Damai

Sumber Gambar: Geologinesia.com 

Gg. Mandor Ciputat
19 Oktober 2019

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...