الأحد، أبريل 24، 2016

Contoh Biodata Penulis


Selain surat pengantar, perlu disertakan juga bodata penulis. Bagaimana redaktur tahu tentang data diri Anda jika tidak ada biodata yang dilampirkan. Kecuali Anda seorang pakar, pejabat pemerintahan atau sebuah lembaga atau penulis yang sudah sangat dikenal, maka biodata tidak terlalu diperlukan lagi. Namun jika Anda adalah seorang penulis biasa, bukan pakar dan bukan pejabat pemerintah atau sebuah lembaga dan Anda  baru pertama mengirimkan tulisan, maka Anda perlu menyertakan biodata.

Berikut adalah contoh biodata seorang penulis dalam bentuk narasi. (Biodata Arswendo Atmowiloto, seorang penulis superproduktif). Contoh diambil dari Buku Freelance Media, Cara Gampang Cari Uang, karya Zaenuddin HM, Cetakan I, Milenia Populer, 2003):

Arswendo Atmowiloto lahir di Solo, 26 November 1948. Selepas kuliah di IKIP setempat tanpa selesai, ia menjadi penulis. Ada puluhan bukunya yang telah diterbitkan. Yang memenangkan lomba maupun  yang terpilih sebagai buku utama. Sangat berminat pada soal televisi, komik dan lawak yang terus ditekuninya ketika bekerja di Gramedia Majalah sejak tahun 1974 hingga akhir tahun 1990., ketika menghuni Lembaga Pemasyarakatan karena kasus tabloid Monitor yang dipinpinnya.

Sebagai penulis, selain beberapa kali mendapat hadiah nasional, ia pun pernah diundang ke Universitas Iowa, Amerika Serikat, dalam rangka program penulisan kreatif (1979). Ia juga termasuk pemenang ASEAN Award (1987). Sejak bebas bersyarat pada Agustus 1993, ia berkumpul  kembali bersama istri dan ketiga anaknya, dengan membawa oleh-oleh dari Cipinang: sekumpulan sandal jepit bertato dan lukisan tato.

(Dikutip dari Buku MENGHITUNG HARI – Hikmah Kebijaksanaan Dalam Rumah Tahanan / Lembaga Pemasyarakatan, Cetakan V, Grafiti Pers, 1996).


Biodata penulis tersebut di atas hanya sekadar contoh. Anda bisa mengolahnya kembali sesuai dengan selera dan juga kebutuhan. Semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan dan kekurangan, silakan koreksi dan tambahkan di bagian kolom komentar. Terima kasih dan Salam Menulis.

Contoh Surat Pengantar ke Redaksi


Untuk mengirimkan artikel Opini ke media massa, maka diperlukan surat pengantar yang ditujukan kepada redaktur. Karena sekarang pengiriman tulisan melalui email, maka surat pengantar itu dituliskan di badan email. Sementara Artikel atau tulisan opini dilampirkan dalam bentuk attachment dengan format word atau rtf. Berikut adalah contoh surat pengantar kepada redaktur.


Kepada Yth.
Redaktur Opini
Koran Sindo
di –
          Tempat


Assalamu’alaikum wr. wb.

Salam Sejahtera,

Bersama ini saya kirimkan tulisan berjudul ”Nasib Sepak Bola Indonesia” untuk dimuat di halaman Opini.

Tulisan ini sebagai ungkapan keprihatinan akan nasib dan masa depan sepak bola Indonesia setelah Menpora membekukan PSSI dan FIFA menghukum Indonesia karena dianggap ada interfvensi pemerintah terhadap federasi.

Melalui tulisan ini saya ingin mengingatkan sekaligus memberi saran kepada pemerintah khususnya Menpora bahwa untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia, tidak cukup hanya membekukan kepengurusan PSSI saja. Harus dipikirkan bagaimana Indonesia bisa keluar dari sanksi FIFA, karena jika masih kena sanksi, apapun upaya yang dilakukan akan tetap sia-sia karena Indonesia tidak bisa tampil di ajang internasional.

Mudah-mudahan redaksi berkenan memuat tulisan ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terima banyak kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Depok, 25 April 2016



Mas Badiyo

Alamat : Jl. ..............................................................
Alamat Kontak : HP 0815 102 xxx xx
Email : …………………………………………….
Nomor Rekening: ……………. Bank. ……………

*) Contoh diambil dari buku Freelance Media, Cara Gampang Cari Uang, karya Zaenuddin HM, Cetakan I, Milenia Populer, 2003.
                               
Demikian contoh surat pengantar kepada redaksi. Tidak ada yang baku dalam penulisan surat pengantar. Karena itu Anda bisa saja mengubah format surat pengantar dan menyesuaikannya sesuai kebutuhan. Semoga bermanfaat. Jika ada kesalahan dan kekurangan, silakan dikoreksi dan ditambahkan di bagian kolom komentar. 

السبت، أبريل 23، 2016

Tips Mengirimkan Artikel Opini ke Media Massa


Betapa senangnya jika tulisan dan nama kita terpampang di halaman opini sebuah surat kabar. Tulisan kita akan dibaca banyak orang. Begitu juga dengan nama kita, semakin dikenal banyak orang. Apalagi jika tulisan kita dimuat sebuah koran nasional ternama semisal Kompas atau Republika, tentu cakupannya akan lebih luas lagi. Tidak sebatas pada suatu kota atau wilayah, melainkan nasional. Bukan hanya itu, sebagai penulis kita akan mendapatkan honor. Menarik bukan?

Namun bagaimana caranya agar tulisan kita bisa dimuat di sebuah media cetak? Cara mengirimkan tulisan ke media massa itu gampang. Namun bagaimana caranya agar tulisan kita dimuat, itu yang sedikit butuh perjuangan. Perlu saya jelaskan bahwa yang dibahas di sini adalah tulisan artikel opini. Untuk jenis tulisan lain seperti feature dan cerpen akan di bahas di lain kesempatan. 

Kita mulai dari yang gampang dulu yaitu bagaimana cara mengirimkan tulisan ke media masa. Sekarang penulis jauh lebih dalam mengirimkan tulisan yaitu melalui email. Berbeda dengan dulu saat belum ada email, penulis harus mengirimkan tulisan melalui surat pos atau dikirim langsung ke kantor redaksi. Dengan pengiriman melalui email, selain praktis, waktu yang dibutuhkan juga jauh lebih cepat.

Berikut tahapan pengiriman tulisan melalui email:

  1. Sebagai penulis Anda harus punya daftar alamat email berbagai media massa
  2. Buat surat pengantar yang berisi perkenalan dan maksud serta tujuan Anda di badan email. (Contoh Surat Pengantar ke Redaksi akan dibahas dalam tulisan tersendiri) 
  3. Lampirkan tulisan Anda dalam bentuk attachment (sisipan, lampiran) dalam format word atau rtf. Jangan mengirimkan tulisan Anda di badan email.
  4. Di Subjek email ditulis: Artkel Opini (judul artikel di tulis di sini) 

Berikut adalah tips agar tulisan Anda berpeluang besar untuk dimuat 

  1. Sesuaikan gaya penulisan di media cetak yang akan dituju. Hal ini memang butuh waktu. Jika akan mengirimkan opini ke Koran Sindo maka Anda harus sering membaca opini yang ada di koran tersebut. Jika sudah sering membaca dan mengamati, pasti Anda akan tahu gaya penulisannya. Selanjutnya tinggal sesuaikan tulisan Anda dengan gaya penulisan di Koran Sindo. Begitu juga untuk koran-koran yang lain. Karena setiap media, setiap Koran punya gaya dan ciri khas masing-masing.
  2. Menulis topik atau tema yang sedang aktual, yaitu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi atau peristiwa yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat. Anda bisa melihatdari headline atau tajuk rencana/tajuk/editorial dari koran yang bersangkutan. Aktual bisa juga berkaitan dengan perayaan hari-hari besar baik nasional maupun keagamaan. Misalnya hari Pendidikan Nasional, hari Kebangkitan Nasional, Isra Mi’raj, Proklamasi Kemerdekaan, dan lain sebagainya.
Demkian tips cara mengirimkan tulisan opini ke media massa khususnya media massa cetak. Semoga bermanfaat. Jika ada yang salah atau kurang, silakan koreksi dan tambahkan di kolom komentar. Terima kasih dan Salam Menulis.

الثلاثاء، أبريل 19، 2016

Selamat Ulang Tahun PSSI ke-86


Hari ini genap 86 tahun usia Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).  PSSI lahir tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta saat Konggres  Sepakbola yang dibidani oleh tujuh klub kala itu yakni VIJ Jakarta, BIVB Bandung, PSM Yogyakarta, VVB Solo, MVB Madiun, IVBM Magelang dan SIVB Surabaya. Organisasi induk yang mengatur kegiatan olahraga sepakbola di Indonesia itu  awalnya bernama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia.

PSSI  bergabung dengan induk organisasi sepakbola dunia FIFA pada tahun 1952 dan kemudian dengan AFC pada tahun 1954. Setiap tahun PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia. Sebelum tahun 1979 kompetisi sepakbola nasional di Indonesia diselenggarakan secara amatir yang dikenal dengan perserikatan.

Mulai tahun 1979 PSSI mengadakan kompetisi sepakbola semi professional yang diberi nama Liga Sepabola Utama disingkat Galatama. Sementara kompetisi perserikatan tetap berjalan sehingga saat itu ada dua kompetisi, Perserikatan dan Galatama sampai tahun 1994.

Pada tahun 1994 PSSI menggabungkan dua kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia. Saat ini Liga Indonesia dibagi mejadi lima tingkat. Kompetisi Non Amatir diselenggarakan oleh PT. Liga Indonesia terdiri dari Liga Super Indonesia dan Divisi Utama Liga Indonesia. Sementara Kompetisi Amatir diselenggarakan oleh Badan Liga Amatir Indonesia diikuti oleh Divisi Satu, Divisi Dua dan Divisi Tiga Liga Indonesia.

Sejarah Prestasi Tim Nasional (Timnas) Indonesia dimulai tahun 1938 saat tampil di Piala Dunia Perancis. Timnas Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda kalah 0-6 dari Hungaria.
Timnas Indonesia kembali menunjukkan kemampuannya saat mampu menembus babak perempat final Olimpiade Melbourne 1856. Di perempat final Indonesia kalah 0-4 dari Uni Soviet yang saat itu diperkuat kiper legendaries Lev Yashin.

Pada Asian Games 1958 Tokyo Jepang, Timnas Indonesia berhasil meraih medali perunggu saat mengalahkan India 4-1 pada perebutan juara ketiga. Bahkan pemain Indonesia Wowo Sunaryo menjadi pencetak gol terbanyak yaitu 23 gol.

Di ajang pesta olahraga antar negara Asia Tenggara SEA Games, Timnas Indonesia dua kali meraih medali emas yaitu pada tahun 1987 di Jakarta dan tahun 1991 di Manila. Itulah prestasi yang pernah diraih Timnas Indonesia di kancah internasional.

Sejak PSSI berdiri tahun 1930 hingga tahun 2016 ini, ada 16 orang yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum. Mulai dari Ir. Soeratin Sosrosoegondo hingga La Nyala Mataliti. Berikut adalah daftar nama Ketua Umum PSSI dari tahun 1930 hingga 2016:

No

Awal jabatan
Akhir jabatan
1
1930
1940
2
Artono Martosoewignyo
1941
1949
3
1950
1959
4
Abdul Wahab Djojohadikoesoemo
1960
1964
5
1964
1967
6
1967
1974
7
Bardosono
1975
1977
—
Moehono
1977
1977
8
1977
1981
9
1982
1983
10
1983
1991
11
1991
1999
12
1999
2003
13
2003
1 April 2011
—
1 April 2011
9 Juli 2011
14
9 Juli 2011
18 April 2015
15
La Nyalla Mattalitti (tidak diakui pemerintah)
18 April 2015

 Referensi:
-         -   Id.wikipedia
-  Kompasiana

الاثنين، أبريل 18، 2016

Dalam Judul Tulisan Minimal Ada Dua Kata Kunci

Akhir pekan kemarin  sebenarnya ada dua undangan. Pertama dari Pak Mustafa Ismail, seorang Bloger yang juga bekerja di Koran Tempo. Pak Mus, mengundang untuk pertemuan hari Sabtu, jam empat sore di Family Mart Universitas Pamulang (Unpam). Sebetulnya Sabtu (16/4/2016) kemarin adalah pertemuan yang ketiga. Namun pertemuan pertama dan kedua saya tidak bisa hadir. Karena itu walau cukup lelah dan ngantuk, saya paksakan untuk bisa hadir.

Beberapa teman bloger yang diundang ternyata berhalangan datang karena ada kegiatan lain. Hanya tiga orang yang bisa hadir, saya, Pak Mustafa dan Mas Zaenal Radar yang ternyata adalah penulis scenario sinetron Tendangan Si Madun dan Mak Ijah Naik Haji. Bagi saya ini adalah pertemuan pertama dengan keduanya. Karenanya saya bersyukur bisa bersilaturahim dengan dua orang penulis senior.

Meski hanya bertiga namun tak mengurangi kualitas obrolan. Kami bertiga ngobrol tentang menulis dan blog. Saya dan Pak Mus ngobrolin tentang bagaimana agar blog ramai pengunjung. Mas Zaenal serius memelototi laptop sambil  mengetik. Sepertinya dia sedang mengejar deadline. Hanya sesekali dia menimpali obrolan.

Saya mendapat pelajaran yang cukup berharga tentang membuat judul yang baik dari Pak Mus. “Rata-rata judul di berita online mengandung dua kata kunci, ada yang tiga kata kunci, seminim-minimnya satu kata kunci,” kata Pak Mustafa. Jika sebuah judul tidak mengandung satu pun kata kunci, ya sudah, lewat.

Saya sampaikan ke Pak Mus, kalau masalah kata kunci sebenarnya saya sudah tahu, namun saya sering mengabaikannya. Ketika menulis dan membuat judul saya asal menulis saja tanpa memperhatikan kata kunci. “Pantes saja selama ini tulisan saya sering lewat dan jarang yang melirik,” kata saya dalam hati. Karenanya saya bertekad untuk memperhatikan kata kunci saat menulis, terutama judul.

Obrolan semakin menarik. Tanpa terasa hari sudah gelap. Setengah delapan malam pertemuan berakhir dengan sebuah pencerahan. Menulis judul tulisan di blog, harus mengandung minimal dua kata kunci.

الثلاثاء، أبريل 05، 2016

Saat Ini Dunia Digital Dihuni Empat Generasi

“Pak Risky lagi galau ya, kok update status terus?” kata seorang teman mengontentari status Pak Rizky. Saat membaca komentar itu saya langsung berfikir: kalau saya update status di facebook berarti saya dianggap sedang galau ya. Padahal saya terbilang sering update status facebook. Hampir setiap hari. Bahkan terkadang dalam sehari saya bisa tiga atau empat kali update status. Saya kembali merenung, takut kalau saya nanti dicap sebagai orang yang lagi galau.

Pikiran saya back flash kembali ke awal saat saya sign up, mendaftar atau membuat akun di facebook. Tujuan pertama sejujurnya adalah agar mengikuti tren dan perkembangan jaman. Kalau kata anak muda sekarang agar kekinian. Tujuan berikutnya adalah agar eksis. Menyitir kata-kata filsuf Prancis, Rene Descartes, Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada. Demi memenuhi kebutuhan eksistensi diri: Aku Ber-facebook Maka Aku Ada.

Di saat yang sama saya sedang mendalami dunia tulis-menulis dan sedang semangat mempelajarinya. Bagi saya update status adalah belajar menulis. Menuliskan jawaban dari pertanyaan yang ada di kolom status facebook: Apa yang Anda pikirkan sekarang? Mungkin hanya dua, tiga atau empat kata. Namun tetap saja itu namanya adalah tulisan yang dihasilkan dari proses menulis. Soal kemudian tulisan itu bagus atau tidak, itu nomor enam belas.

Pak Rizky dan temannya memang termasuk gen Y alias generasi millennia jadi saya maklum kalau mereka menjadikan facebook sebagai sarana curhat kegalauan. Namun untuk gen X seperti saya nanti dulu. Enak aja saya dibilang galau. Enggak la yau. Kalau pun sedang galau, gen X punya tempat tersendiri untuk melampiaskannya, bukan di medsos seperti facebook. Di mana? Ada deh.

Saat ini kita semua baik generasi baby boomers, gen x, gen y dan gen z sedang hidup di jaman yang sama. Jaman teknologi informasi atau dunia digital. Dunia digital saat ini berkembang begitu cepat. Ada yang mengatakan ini adalah era postmodern yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan dunia digital yang begitu cepat.

Boleh saja gen y menggunakan medsos untuk curhat atas kegalauannya dan gen x memanfaatkannya untuk aktuaisasi diri. Mungkin bagi generasi baby boomers, media sosial adalam sebuah tontonan. Sementara bagi gen z, media sosial adalah alat permainan. Mungkin saja. Satu hal yang pasti adalah dunia digital saat ini dihuni leh empat generasi, baby boomers, gen x, gen y dan gen z.


Foto: Adriannisa blogspot com

الاثنين، أبريل 04، 2016

Pastikan Informasi yang Anda Dapatkan itu Benar

Arus informasi datang begitu deras seiring perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat ini. Jika selama ini orang mendapat informasi dari media elektronik seperti televisi dan radio, kini orang bisa mendapatkan dari media sosial seperti facebook, twitter dan lain-lain. Bahkan orang bisa dengan cepat mendapat informasi dari aplikasi whatsapp melalui grup-grup yang diikutinya.

Saat terjadi peristiwa bom Thamrin, dalam hitungan detik orang sudah tahu informasi itu tanpa harus menonton televisi dan mendengarkan siaran radio. Begitu juga  saat ada pertandingan final Piala Bhayangkara antara Arema lawan Persib kemarin. Banyak orang yang sebetulnya tidak suka dan nggak ngerti bola pun ikut-ikutan komentar. Hal itu terjadi lantaran mereka mendapat informasi dari media sosial maupun grup whatsapp.

Perkembangan teknologi informasi khususnya internet memang begitu pesat dan cepat terjadi. Tak ada lagi hambatan waktu dan tempat. Informasi mengalir secara massif begitu deras, melintas batas ruang dan waktu. Dalam sekejap mata berbagai informasi sudah dalam genggaman setiap orang.

Sayangnya kondisi seperti ini dimanfaatkn oleh orang atau sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan teknologi informasi ini untuk kepentingan tertentu. Entah untuk kepentingan apa, namun intinya ada orang atau pihak yang menyampaikan informasi yang tidak benar. Maka jika penerima informasi tidak hati-hati maka dia akan tertipu dan rugi.

Misalnya beberapa waktu lalu saya membaca status facebook teman yang men-share berita tentang pengawalan Presiden Jokowi saat berkunjung ke Amerika Serikat. Menurut berita itu, Presiden Joko Widodo begitu dihormati oleh Amerika Serikat sampai-sampai pengawalan terhadapnya begitu luar biasa. Mobil Polisi dan motor-motor gede tampak berpatroli mengawal Jokowi di berita itu. Sebagai warga Indonesia, saya sangat bangga sehingga saya ikut men-share berita itu.

Keesokan harinya muncul informasi bahwa berita pengawalan Presiden Jokowi di Amerika Serikat sebagaimana diberitakan tersebut adalah bohong. Bahwa Presiden Jokowi saat itu sedang berkunjung ke Amerika Serikat itu benar. Namun gambar pengawalan Polisi Amerika itu adalah gambar pengawalan polisi saat pemakaman penyanyi Michael Jackson.

Setelah dapat informasi ini, saya coba amati gambar itu sambil cross-chek informasi sana-sini. Ternyata benar, foto pengawalan polisi itu adalah saat pemakaman Michel Jackson. Bukan pengawalan kunjungan Presiden Jokowi. Saya kemudian diam dan malu.

Hal yang saya lakukan selanjutnya adalah harus berhati-hati ketika membaca berita yang ada di internet. Harus teliti dan melakukan cross-chek. Jangan langsung percaya hanya dari satu sumber informasi. Harus mencari sumber informasi lain terkait berita atau informasi itu. Akakah benar berita atau informasi tersebut. Kalau orang pesantren sering menyebutnya sebagai Tabayyun, mencari kejelasan tentang sesuatu sehinga jelas kebenarannya.  

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...