الأحد، ديسمبر 13، 2009

BINGUNG MENGELOLA BLOG


Ketika saya pertama kali mengenal blog dan kemudian mengetahui manfaatnya, saya langsung sign up, mendaftar. Menjadi media untuk mem-publish tulisan-tulisan kita adalah manfaat blog yang paling menarik bagi saya. Sebagai seorang yang sedang belajar dan senang menulis, tak ada yang lebih menarik selain dapat mempublikasikan karya kita agar diketahui dan dibaca orang.

Sebelum ada blog, untuk mempublikasikan sebuah karya tulis mesti melalui media surat kabar. Untuk bisa menembus media surat kabar, bukanlah perkara mudah, bahkan sulit bagi penulis yang belum dikenal. Ada banyak syarat yang mesti kita patuhi untuk bisa menembusnya. Syarat-syarat redaksional yang berkaitan dengan ke-tata bahasaan harus dipenuhi. Menyesuaikan tulisan kita dengan mainstrem media yang dituju juga harus menjadi perhatian penulis. Pokoknya sulit untuk bisa menulis di media masa surat kabar.

Maka kedatangan media blog menjadi sebuah kabar yang sangat menggembirakan bagi para penulis pemula. Saking gembiranya, saya sempat mendaftar di beberapa layanan blog seperti blogger, multiply, blog gaulnya indosiar, live journal, blogsome, my space, dan beberapa blog lainnya yang saya sendiri sampai lupa. Belakangan saya juga mendaftar di blog detik dan dagdigdug.

Awalnya saya aktif mengisi blog di indosiar, kemudian juga multiply. Seiring perjalanan waktu, saya hanya aktif di multiply. Blog-blog yang lain terbengkalai. Jangankan mengurus blog yang lain, wong di multiply saja saya masih ”senen kemis”. Suatu saat akhirnya saya berpikir ingin mengelola tiga blog saja, yaitu di multiply sebagai wadah untuk menampung tulisan-tulisan seputar sosial, blogspot untuk tulisan seputar dunia kerja, dan wordpress untuk tulisan politik.

Setelah memutuskan untuk mengelola hanya tiga blog, apakah urusan per-blog-an menjadi beres? Ternyata tidak. Blog-blog itu masih tetap saja terbengkalai. Ada yang sampai beberapa bulan tidak di update. Sampai di sini saya merenung, berarti saya ini seperti nafsu besar tenaga tidak ada. Instrospeksi.

Untuk mengatasi problem semacam itu, saya sowan pada mbah Google untuk memohon nasehat. Banyak nasehat yang disampaikan mbah Google kepada saya. Intinya, agar lebih mudah mengurusnya, kelola satu blog saja. Bukan hanya itu, agar lebih kredibel, isi blog juga sebaiknya satu tema tertentu. Niche kalau tidak salah. Tapi ini kesimpulan saya pribadi setelah menerima nasehat dari mbah Google. Kalau saya salah, mohon dikoreksi.

Meski sedikit, pengetahuan saya tentang blog bertambah, namun persoalan juga bertambah. Kenapa? Saya ini hingga detik ini kok susah ya untuk fokus ke tema tertentu. Saya pernah berusaha mencoba fokus ke satu tema, olah raga sepak bola misalnya. Namun begitu suasana di luar hiruk pikuk menjelang Pemilu misalnya, perhatian saya tersedot juga ke sana. Tertarik. Pulang dari kantor melihat para pengendara sepeda motor yang ngebut seenak wudele dewe, tertarik pula untuk membahasnya. Masih terlalu banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya. Piye iki (bagaimana ini)?

Apakah hal itu adalah ciri-ciri bahwa saya ini cocok untuk menjadi seorang penulis yang generalis? Saya rasa masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Yang jelas, pusing dan bingung. Barangkali ada yang bisa bantu atau kasih saran?

Kegagalan Timnas U-23, PR Bagi PSSI


Target masuk final yang dicanangkan PSSI terhadap Timnas U-23 di ajang SEA Games XXV Laos tidak tercapai. Tak satu kemenangan pun bisa diraih Toni Sucipto dan kawan-kawan. Indonesia Muda yang dilatih Alberto Bica dari Uruguay, hanya mampu meraih satu poin dari hasil seri melawan Singapura. Setelah itu, Garuda Muda babak belur dihajar Laos 0-2 dan ditekuk Myanmar 1-3.

Bukan medali atau prestasi membanggakan yang dibawa pulang Garuda Muda, tetapi malu yang harus ditanggung. Betapa tidak, semua orang tahu siapa Laos dan bagaimana jejak langkahnya di kancah persepak bolaan Asia Tenggara. Kalau di buat level, Laos berada di level kedua sejajar dengan Kamboja, Brunei Darussalam, Philipina, dan Timor Leste. Sementara Indonesia berada di level pertama sejajar dengan Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia.

Demikian juga dengan Myanmar. Meski negara yang dulu bernama Birma itu menunjukkan peningkatan, namun seharusnya Indonesia mampu mengatasinya. Namun nyatanya, Indonesia dipermak 1-3 oleh negeri seribu Pagoda itu.

Jadi, kalau Indonesia kalah melawan Thailand, Vietnam, atau Singapura, rasanya tidak terlalu aneh dan mengherankan. Meski kecewa dan prihatin, orang masih bisa memaklumi. Namun jika Indonesia kalah dari negera level kedua seperti Laos, bukan hanya kecewa, tapi heran, malu dan tanda tanya besar, mengapa?

Mengapa bisa kalah dari Laos dan Myanmar? Mengapa Indonesia gagal walau untuk sekadar mencapai semi final? Bukan hanya gagal lolos ke semi final, tapi bahkan Indonesia menjadi juru kunci grup B di bawah Laos, Singapura dan Myanmar. Harap diingat bahwa juru kunci biasanya menjadi langganan negara-negara selevel Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, Philipina atau Timor Leste.

Itulah pertanyaan besar yang menggelayut di masyarakat sepak bola di tanah air. Pertanyaan itu menjadi pekerjaan rumah bagi PSSI. PSSI harus segera mungkin untuk mengerjakan PR tersebut. Kalau tidak, jangan heran jika dua tiga tahun ke depan, Myanmar dan Laos akan menyalip Indonesia. Harus diingat bahwa Timnas U-23 yang berlaga di SEA Games Laos adalah calon Timnas Senior Indonesia dua tiga tahun mendatang. Apakah kita mau dipermalukan lagi?

Bravo Sepak Bola Indonesia!

الثلاثاء، ديسمبر 08، 2009



MENGAPA INDONESIA KALAH DARI LAOS?

Kalah 0-2 melawan Laos adalah berita buruk yang mengherankan sekaligus sulit diterima dan dimengerti seluruh pecinta bola di tanah air. Tapi itulah kenyataan yang terjadi. Timnas U-23 Indonesia di laga kedua di SEA Games ke-25 Laos di luar dugaan dikalahkan tim anak bawang Laos 0-2.

Di laga sebelumnya, Indonesia hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Singapura. Peluang lolos ke semi final yang ditargetkan PSSI pun semakin tipis kalau tidak boleh dibilang pupus. Pasalnya, selain harus memenangkan laga terkahir melawan Myanmar, Indonesia juga tergantung pertandingan antara Laos melawan Singapura. Jika Indonesia menang lawan Myanmar dan Laos menang telak lawan Singapura, nasib Garuda Muda mungkin masih bisa tertolong. Namun jika Indonesia menang sementara Singapura dan Laos bermain imbang, kemenangan Indonesia akan menjadi sia-sia. Apalagi jika Indonesia kalah lawan Myanmar, praktis peluang Indonesia ke semi final akan tertutup rapat. Lebih dari itu, Indonesia akan menempati juru kunci grup B. Itu artinya bencana besar bagi dunia sepak bola di tanah air. Evaluasi total dan mencari solusi harus segera dilakukan PSSI.

Sayang tidak ada siaran langsung pertandingan itu sehingga kita tidak bisa menganalisa kenapa Tony Sucipto dan kawan-kawan sampai kalah lawan Laos. Namun pengamatan pribadi saya terhadap persepak bolaan Indonesia dari tahun 80-an hingga sekarang adalah bahwa kelemahan sepak bola Indonesia umumnya pada faktor mental dan stamina. Sementara dari teknik dan skil menurut saya para pemain Indonesia tidak kalah dari pemain negara lain. Bahkan kalau boleh dibilang, Indonesia banyak memiliki pemain yang memiliki skil yang luar biasa seperti Boaz Solossa. Teknik juga tidak kalah dari pemain luar karena teknik itu bisa dipelajari oleh para pemain Indonesia.

Khusus kekalahan Indonesia 0-2 dari Laos di SEA Games ke-25 menurut saya adalah akibat faktor buruknya mental para pemain. Karena dari segi teknik dan skil, Indonesia bisa dibilang satu level diatas Laos. Faktor stamina juga bukan penyebab kekalahan itu karena Laos bukanlah negara yang memiliki pemain dengan kekuatan fisik dan speed yang tinggi semacan Korea dan Jepang.

Lantas bagaimana solusi bagi Timnas Indonesia untuk meningkatkan prestasi di masa yang akan datang?. Tentu kelemahan-kelemahan itu yang harus segera diperbaiki.

Faktor Stamina

Kelemahan stamina para pemain Indonesia akan sangat mudah terlihat jika Indonesia berhadapan dengan tim-tim yang bermain cepat seperti dari Asia Timur macam Korea, Jepang, dan China. Biasanya pemain Indonesia hanya bisa mengimbangi mereka di babak pertama. Di babak kedua, sering kali Indonesia akan menjadi bulan-bulanan karena lawan terus menggedor sementara para pemain Indonesia sudah ngos-ngosan. Oleh karena itu, masalah stamina ini harus diperbaiki. Pelatih kepala bekerja sama dengan dokter tim dan juga pelatih khusus fisik bisa menangani hal ini.

Faktor Mental

Timnas Indonesia baik senior maupun yunior sering mengalami demam pangung dan over-confident. Saat pertandingan berjalan dan kondisi buruk terjadi di lapangan, memang agak sulit membedakan antara keduanya. Demam panggung sering melanda para pemain Indonesia terutama pada pertandingan-pertandingan pertama. Dalam kondisi demikian, skema permainan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Para pemain sering melakukan kesalahan-kesalahan mendasar seperti kontrol bola yang kurang baik, umpan tidak akurat dan lain sebagainya.

Sementara over-confident atau percaya diri yang berlebihan juga kerap melanda para pemain Indonesia jika berhadapan dengan tim-tim lemah yang di atas kertas akan mudah dikalahkan. Akibatnya para pemain terlihat sangat santai dan tidak serius memainkan bola. Kondisi seperti ini tentu tidak baik karena permainan tidak akan berkembang. Sebaliknya, tim lawan akan memanfaatkan kondisi itu untuk mencuri gol. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Bukannya kemenangan besar dan mudah diraih. Bisa jadi kemenangan pun akan sulit digapai, bahkan mungkin kekalahan yang diterima.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah mental tersebut adalah dengan menambah jam terbang dengan memperbanyak laga uji coba. Uji coba yang berdampak pada perbaikan mental para pemain terutama laga uji coba melawan timnas dari negara lain. Jika bertanding melawan timnas negara lain, suasana pertandingan seperti di pertandingan resmi sebuah turnamen. Teror penonton tim lawan, wasit yang memimpin pertandingan, dan juga suasana pertandingan di lapangan akan menjadi pelajaran tersendiri bagi para pemain. Rasa nasionalisme para pemain juga akan semakin tumbuh dan kuat. Maka, semakin sering melakukan laga uji coba melawan tim nasional negara lain, kualitas mental para pemain akan semakin baik.

Sebaliknya, jika uji coba dilakukan dengan klub baik lokal maupun negara lain, dampaknya akan kurang. Tidak akan ada teror penonton yang kuat, wasit dan suasana di lapangan akan tampak seperti pertandingan biasa, bukan turnamen resmi. Dalam uji coba semacam ini, rasa nasionalisme pun rasanya tidak terlalu perlu dimunculkan. Toh ini cuma pertandingan uji coba. Akibatnya, tidak akan mampu atau kurang bisa untuk memperbaiki mental para pemain.

Jadi seharusnya Timnas Indonesia baik senior maupun yunior harus sering melakukan uji coba melawan Timnas negara lain. Ini memang menjadi tugas PSSI. Belakangan, PSSI sering sekali membatalkan laga uji coba melawan negara lain dengan berbagai alasan. Alasan yang klise dan sering dilontarkan adalah minimnya biaya untuk bisa menggelar laga uji coba. Kita sebagai pecinta bola tanah air tentu maklum dengan kondisi ini karena memang biaya untuk menggelar laga uji coba apalagi dengan timnas luar negeri tidaklah sedikit. Namun, jika ingin Timnas Indonesia bisa berbicara di kancah persepak bolaan internasional, minimal di tingkat Asia Tenggara, tidak ada jalan lain. Berapa pun biaya yang harus ditanggung untuk menggelar laga uji coba, PSSI harus mengupayakannya.

Bravo Sepak Bola Indonesia!

الأحد، ديسمبر 06، 2009


PEMBAGIAN GRUP PIALA DUNIA 2010

Demam Piala Dunia sudah mulai melanda jutaan penghuni planet bumi. Piala Dunia 2010 memang baru akan dilangsungkan tanggal 11 Juni hingga 11 Juli 2010 mendatang di Afrika Selatan.

Namun ketika drawing pembagian grup putaran final Piala Dunia 2010 dilaksanakan Jum’at (4/12) malam, demam Piala Dunia mulai terlihat melanda penduduk dunia.

Diperkirakan 200 juta pecinta bola di seluruh dunia menyaksikan undian pembagian grup yang diliput oleh sekitar 1.700 media. Sementara ribuan warga Afrika Selatan berpesta di jalan-jalan utama Cape Town menyambut acara undian pembagian grup tersebut.

Berikut adalah hasil undian pembagian grup peserta Piala Dunia 2010 Afrika Selatan:

Grup A
1. Afrika Selatan
2. Meksiko
3. Uruguay
4. Prancis

Grup B
1. Argentina
2. Nigeria
3. Korea Selatan
4. Yunani

Grup C
1. Inggris
2. Amerika Serikat
3. Aljazair
4. Slovenia

Grup D
1. Jerman
2. Australia
3. Serbia
4. Ghana

Grup E
1. Belanda
2. Denmark
3. Jepang
4. Kamerun

Grup F
1. Italia
2. Paraguay
3. Selandia Baru
4. Slovakia

Grup G
1. Brasil
2. Korea Utara
3. Pantai Gading
4. Portugal

Grup H
1. Spanyol
2. Swiss
3. Honduras
4. Chile

Sudah dimuat di KabarIndonesia

الخميس، ديسمبر 03، 2009


FINAL DRAW FIFA WORLD CUP 2010

Undian final Piala Dunia 2010 akan digelar Jum’at (4/12) malam nanti di Capte Town International Convention Centre, Afrika Selatan. Acara yang amat dinanti-nanti oleh jutaan pecinta bola di seluruh dunia itu akan dipandu oleh Sekjen FIFA Jerome Valcke. Dia akan ditemani oleh peraih penghargaan Aktris Terbaik Oscar 2004 Charlize Theron yang akan bertindak sebagai Co-Host.

Mereka akan satu panggung dengan bintang sepak bola asal Inggris, Devid Beckham. Selain itu, akan tampil juga Presiden Afsel Jacob Zuma dan dua peraih nobel asal Afsel Nelson Mandela yang juga mantan Presiden Afsel, serta Pendeta Desmond Tutu.

Akan hadir pula Presiden FIFA Sepp Blater, para legenda sepak bola antara lain Franz Beckenbauer, Michel Platini, Eusebio, dan Roger Milla, serta para perwakilan dari negara peserta Piala Dunia 2010.

Berbagai kecemasan mewarnai menjelang pengundian final Piala Dunia 2010. Pelatih Inggris Fabio Capello misalnya kawatir jika timnya bertemu dengan Brasil dan tim yang bermain dengan gaya Brasil seperti Portugal. Apalagi sejarah mencatat bahwa Portugal telah dua kali menghentikan langkah Inggris di Piala Eroa 2004 dan Piala Dunia 2006.

Sementara kapten Pantai Gading, Didier Drogba merasa takut jika harus bertemu dengan Inggris dan Brasil.

Acara yang diperkirakan akan menyita perhatian 200 juta pasang mata di seluruh dunia itu akan diliput oleh 1.700. Satu diantara media itu adalah RCTI yang akan menyiarkan secara langsung mulai pukul 22.00 WIB.

Berikut adalah pembagian unggulan peserta Piala Dunia 2010 yang didasarkan pada peringkat FIFA terbaru.

Pot 1: Afrika Selatan, Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol

Pot 2: Australia, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Honduras, Meksiko, AS, Selandia Baru

Pot 3: Aljazair, Kamerun, Ghana, Pantai Gading, Nigeria, Chile, Paraguay, Uruguay

Pot 4: Denmark, Prancis, Yunani, Portugal, Serbia, Slovakia, Slovenia, Swiss

الثلاثاء، نوفمبر 24، 2009


DEPOK TERUS TUMBUH DAN BERKEMBANG

Kota Depok terus tumbuh dan berkembang. Seiring pertumbuhan dan perkembangan tersebut, maka Pemkot Depok melakukan pemekaran kecamatan dari enam kecamatan menjadi sebelas kecamatan. Pemekaran tersebut sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2007. Berikut adalah daftar sebelas kecamatan hasil pemekaran yang terdiri dari enam puluh tiga kelurahan.

1. Kecamatan Beji meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Beji;
2. Kelurahan Beji Timur;
3. Kelurahan Kemiri Muka;
4. Kelurahan Pondok Cina;
5. Kelurahan Kukusan; dan
6. Kelurahan Tanah Baru.

2. Kecamatan Pancoran Mas meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Pancoran Mas;
2. Kelurahan Depok;
3. Kelurahan Depok Jaya;
4. Kelurahan Rangkapan Jaya;
5. Kelurahan Rangkap Jaya Baru; dan
6. Kelurahan Mampang.

3. Kecamatan Cipayung meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Cipayung;
2. Kelurahan Cipayung Jaya;
3. Kelurahan Ratu Jaya;
4. Kelurahan Bojong Pondok Terong; dan
5. Kelurahan Pondok Jaya.

4. Kecamatan Sukmajaya meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Sukmajaya;
2. Kelurahan Mekarjaya;
3. Kelurahan Baktijaya;
4. Kelurahan Abadijaya;
5. Kelurahan Tirtajaya;
6. Kelurahan Cisalak.

5. Kecamatan Cilodong meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Sukamaju;
2. Kelurahan Cilodong;
3. Kelurahan Kalibaru;
4. Kelurahan Kalimulya; dan
5. Kelurahan Jatimulya.

6. Kecamatan Limo meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Limo;
2. Kelurahan Meruyung;
3. Kelurahan Grogol; dan
4. Kelurahan Krukut.

7. Kecamatan Cinere meliputi kelurahan;
1. Kerurahan Cinere;
2. Kelurahan Gandul;
3. Kelurahan Pangkal Jati; dan
4. Kelurahan Pangkal Jati Baru.

8. Kecamatan Cimanggis meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Cisalak Pasar;
2. Kelurahan Mekarsari;
3. Kelurahan Tugu;
4. Kelurahan Pasir Gunung Selatan;
5. Kelurahan Harjamukti; dan
6. Kelurahan Curug.

9. Kecamatan Tapos meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Tapos;
2. Kelurahan Leuwinanggung;
3. Kelurahan Sukatani;
4. Kelurahan Sukamaju Baru;
5. Kelurahan Jatijajar;
6. Kelurahan Cilangkap; dan
7. Kelurahan Cimpaeun.

10. Kecamatan Sawangan meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Sawangan;
2. Kelurahan Kedaung;
3. Kelurahan Cinangka;
4. Kelurahan Sawangan Baru;
5. Kelurahan Bedahan;
6. Kelurahan Pengasinan; dan
7. Kelurahan Pasir Putih.

11. Kecamatan Bojongsari meliputi kelurahan;
1. Kelurahan Bojongsari;
2. Kelurahan Bojongsari Baru;
3. Kelurahan Serua;
4. Kelurahan Pondok Petir;
5. Kelurahan Curug;
6. Kelurahan Duren Mekar; dan
7. Kelurahan Duren Seribu

Sumber: www.depok.go.id

الأربعاء، نوفمبر 18، 2009


DEPOK, DARI MASA KE MASA (2)

Depok adalah sebuah kota madya di propinsi Jawa Barat. Sebelum menjadi kota madya, Depok dulunya adalah sebuah kecamatan yang masuk wilayah kawedanaan Parung, kabupaten Bogor. Letak kota Depok sangat strategis karena menghubungkan antara Jakarta dengan Bogor. Karena lokasinya yang strategis, maka Depok menjadi pilihan untuk membangun berbagai sarana dan fasilitas umum. Beberapa kompleks Perumahan dibangun oleh Perumnas. Pemerintah juga membangun Universitas Indonesia (UI) di Pondok Cina, Depok. Setelah dibangunnya perumahan dan juga UI, maka perkembangan Depok tak terelakan lagi.

Melalui Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1981, Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok yang diresmikan pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menterai Dalam Negeri waktu itu yakni H. Amir Machmud. Kota Administratif Depok terdiri dari tiga kecamatan dengan 17 desa, yaitu Pancoran Mas (Depok, Depok Jaya, Pancoran Mas, Mampang, Rangkapan Jaya, Rangkapan Jaya Baru), Sukmajaya (Mekarjaya, Sukmajaya, Sukamaju, Cisalak, Kalibaru, Kalimulya, dan Beji (Beji, Tanah Baru, Kemiri Muka, Kukusan, dan Pondok Cina).

Ketika menjadi kota administatif, terus berlangsung dengan begitu cepat dan pesatnya.Di bidang pemerintahan misalnya, semua desa berubah status menjadi kelurahan. Selain itu juga terjadi pemekaran beberapa kelurahan. Di kecamatan Beji, kelurahan Beji dimekarkan menjadi dua kelurahan yaitu kelurahan Beji dan Beji Timur. Dengan demikian, kecamatan Beji yang tadinya terdiri dari lima kelurahan berkembang menjadi enam kelurahan. Sementara Kecamatan Sukmajaya yang tadinya terdiri dari enam kelurahan berkembang menjadi sebelas kelurahan. Sebelas kelurahan tersebut adalah Mekarjaya, Sukmajaya, Abadijaya, Baktijaya, Sukamaju, Kalimulya, Kalibaru, Cisalak, Cilodong, Jatimulya, dan Tirtajaya. Sedangkan kecamatan Pancoran Mas tetap dengan enal kelurahan.

Kota administratif Depok terus berkembang pesat. Beberapa kompleks perumahan terus dibangun oleh para pengembang. Berbagai pusat perbelanjaan juga dibangun. Maka jumlah penduduk pun terus bertambah. Seiring perkembangan yang cukup cepat dan adanya aspirasi dan tuntutan dari masyarakat, Depok berubah status menjadi Kotamadya. Kotamadya Depok diresmikan pada tanggal 27 April 1999.

Kotamadya atau kota Depok terdiri dari enam kecamatan dan 24 kelurahan serta 39 desa yaitu;
1. Kecamatan Pancoran Mas

Kelurahan Pancoran Mas, Kel. Depok, Kel. Depok Jaya, Kel. Mampang, Kel. Rangkapan Jaya, Kel. Rangkapan Jaya Baru, dan Desa Cipayung, Des. Cipayung Jaya, Des. Ratu Jaya, Des. Pondok Terong, serta Des. Pondok Jaya.

2. Kecamatan Sukmajaya

Kelurahan Sukmajaya, Kel. Mekarjaya, Kel. Abadijaya, Kel. Baktijaya, Kel. Sukamaju, Kel. Kalimulya, Kel. Kalibaru, Kel. Jatimulya, Kel. Tirtajaya, Kel. Cisalak, dan Kel. Cilodong,

3. Kecamatan Beji

Kelurahan Beji, Kel. Beji Timur, Kel. Kemiri Muka, Kel. Pondok Cina, Kel. Tanah Baru, dan Kel. Kukusan.

4. Kecamatan Cimanggis

Kelurahan Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa Hajarmukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa Cijajar, Desa Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.

5. Kecamatan Sawangan

Desa Sawangan, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung, Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug, Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar, Desa Pengasinan, Desa Bedahan, Desa Pasir Putih.

6. Kecamatan Limo

Desa Limo, Desa Meruyung, Desa Cinere, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa Grogol.

Tahun 90-an, Depok masih sepi dan lengang. Tidak seperti sekarang, Depok macet luar biasa. Jalan-jalan di Depok saat itu masih sepi, lengang. Di tahun 1992, ketika penulis sedang membonceng sepeda motor di Jalan Margonda Raya guna mengantar surat dinas, hampir saja tersenggol mobil yang melaju sangat kencang. Ya, saat itu mobil dan motor yang melintasi Margonda Raya hampir dipastikan melaju dengan kecepatan tinggi karena kondisi jalan yang sepi.

Terminal Depok waktu itu belum ada. Jalan Nusantara Raya, dekat simpang lima menjadi tempat ngetem kendaraan ke berbagai jurusan khususnya Metromini Depok – Pasar Minggu. Jadi semacam terminal bayangan atau terminal sementara. Meski Metromini masuk dan melewati jalan Nusantara Raya namun tidak menimbulkan kemacetan. Mungkin karena angkot waktu itu masih bisa dihitung dengan jari. Tak terbayang seandainya sekarang Metromini masih melewati Nusantara. Kendaraan yang akan menuju Sawangan, Pitara, atau Tanah Baru harus mengantri lima belas menit hingga setengah jam untuk melewati lampu merah simpang lima.

Simpang lima Depok? Simpang lima atau simpang enam?

Bersambung

Sumber Referensi:
- www. depok.go.id
- id.wikipedia.org

الاثنين، نوفمبر 16، 2009


Depok, (dulu) Tempat Jin Buang Anak

Depok adalah sebuah kota hasil pemekaran dari wilayah kabupaten Bogor. Posisinya sangat strategis karena menghubungkan Jakarta dengan Bogor. Maka tak mengherankan jika Depok mengalami perkembangan yang begitu pesat. Saat ini Depok salah satu kota penyangga dari Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta selain Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Oleh karena itu sebutan Jabotabek yang dulu akrab di telinga kita, sekarang berubah menjadi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Saat ini, Depok memang menjadi sebuah kota yang ramai karena perkembangannya yang begitu pesat. Salah satu indikasinya adalah kemacetan. Kemacetan menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi warga Depok dan sekitarnya. Angkutan Kota (Angkot), sepeda motor, dan juga mobil-mobil pribadi sama banyaknya. Hal itu terjadi seiring jumlah pendudukan kota Depok yang terus bertambah dan bertambah.

Mungkin sekarang tidak banyak yang tahu kalau Depok di masa lalu adalah sebuah wilayah yang terasa jauh dari Jakarta dan sangat sepi. Kata orang, Depok itu dahulu tempat jin buang anak. Ya, istilah itu sering saya dengar ketika dulu saya pertama kali datang ke Depok, tahun 1990. Orang Depok atau orang yang sudah lama tinggal di Depok, akan mengiyakan cerita tersebut. Kenapa Depok sampai disebut tempat jin buang anak? Begitu seramkah Depok di masa lalu?

Yang disebut Depok dulunya adalah Depok Lama, yang sekarang adalah salah satu kelurahan di kecamatan Pancoran Mas, kota Depok. Bagaimana ceritanya Depok yang dulu sepi dan menjadi tempat jin buang anak berubah menjadi kota yang ramai dan tak pernah lepas dari kemacetan? Berikut adalah sejarah kota Depok.

Pada akhir abad ke-17, tepatnya tanggal 18 Mei 1696, atau 13 Maret 1675 (ada dua versi), Cornelis Chastelein, seorang saudagar Belanda eks VOC membeli tanah di beberapa tempat, salah satunya adalah di Depok. Tanah Depok di beli dengan harga 700 ringgit, dengan status tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Untuk memelihara tanah yang begitu luas dan subur tersebut diperlukan tenaga kerja. Chastelein mendatangkan pekerja-pekerja yang berjumlah kurang lebih 150 orang dari berbagai daerah seperti dari Sulawesi, Kalimantan, Bali, Betawi, dan daerah lain. Para pekerja dan keturunannya sering disebut sebagai budak. Ada juga yang menyebut mereka dengan istilah Belanda Depok. Tentang sebutan budak, mereka tidak keberatan karena memang sejarah mengatakan demikian. Namun tentang sebutan Belanda Depok, mereka keberatan pasalnya tak mau dianggap antek Belanda.

Sejak itulah Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah, yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri. Pemerintah Belanda di Batavia menyetujui pemerintahan Chastelein ini, dan menjadikannya sebagai kepala negara Depok yang pertama.
Daerah otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Sebelum meninggal pada tanggal 28 Juni 1714, Chastelein sudah mempersiapkan surat wasiat yang isinya memerdekakan seluruh pekerja beserta keluarganya. Ia juga mengajak pekerja-pekerja untuk menganut agama Kristen Protestan dan dan meminta setiap kepala keluarga untuk memakai nama-nama sebagai berikut; Jakob, Joseph, Jonathans, Leander, Laurens, Loen, Samuel, Soedira, Zadokh, Isakh, Tholense, Bacas. Jadilah nama-nama tersebut sebagai marga orang Depok (Lama) hingga saat ini.

Rupanya surat wasiat Chastelien tersebut membuat berang gubernur jendral Belanda di Batavia. Gubernur tidak setuju kalau tanah-tamah itu diwariskannya kepada para pekerja. Maka dengan segera pemerintah Belanda mengirim utusan untuk membatalkan isi surat wasiat tersebut, dan mengubahnya menjadi tanah Depok yang diwariskan kepada anak Chastelein. Pengubahan surat wasiat itu cukup beralasan, sebab dalam undang-undang pemerintah kerajaan Belanda, tidak dibenarkan seorang Belanda mewariskan hartanya kepada orang lain, di luar orang Belanda.

Meski demikian, pemerintah Belanda masih mau bersikap luwes. Dibalik surat wasiat Chastelein disebutkan, bahwa para pekerja masih diijinkan menggarap tanah yang selama ini mereka kerjakan dengan status hak pakai. Secara hukum berarti para bekas pekerja berstatus penggarap sekaligus berhak menikmati sebagian hasil dari garapannya.Lama kelamaan hak pakai atas tanah tersebut berubah menjadi hak milik. Atau dikenal dengan Deelgerehtigen.

Para bekas pekerja itu merasakan hidup enak di masa pendudukan Hindia Belanda. Mereka bisa mengenyam pendidikan, bekerja di pemerintahan dan menjadi petani kaya dengan tanah yang luas. Namun nasib mereka berbalik saat Jepang menduduki Indonesia. Mereka mulai merasakan kesulitan hidup. Hal itu berlanjut hingga masa kemerdekaan.
Pada tanggal 4 Agustus 1952, pemerintah Indonesia mengeluarkan ganti rugi sebesar Rp. 229.261,26,-. Seluruh tanah partikelir Depok menjadi hak milik pemerintah RI, kecuali hak-hak eigendom dan beberapa bangunan seperti Geraja, Sekolah, Pastoran, Balai pertemuan, dan Pemakaman.

Pada tanggal itu pula berdiri LCC (lembaga cornelis chastelein), sebuah organisasi sosial yang mengurus sekolah, pemakaman, dan kesejahteraan penduduk Depok Lama..

Polemik Asal Mula Nama Depok

Seorang sejarawan Belanda yang menulis bahwa nama Depok berasal pada masa Cornelis Chastelein. Namun, H. Nawawi Napih, penduduk Depok yang sejak 1991 mengadakan penelitian membantah Depok baru dikenal sejak masa Cornelis Chastelein. Pendapat yang sama juga dikemukakan H Baharuddin Ibrahim dkk dalam buku 'Meluruskan Sejarah Depok'.

Argumen mereka adalah bahwa nama Depok sudah ada sebelum Chastelein membeli tanah Depok. Mereka mengutip cerita Abraham van Riebeeck ketika pada 1703, 1704, dan 1709 selaku inspektur jenderal VOC mengadakan ekspedisi menelusuri sungai Ciliwung. Melalui rute: Benteng (Batavia) - Cililitan - Tanjung (Tanjung Barat) - Seringsing (Serengseng) - Pondok Cina - DEPOK - Pondok Pucung (Terong).
Meski demikian masih ada perbedaan pendapat antara H. Nawawi Napih dengan H. Baharuddin Ibrahim perihal asal mula kata Depok.

Menurut H. Nawawi Napih, yang mendapat keterangan berdasarkan cerita MW Bakas, salah seorang keturunan asli Depok yang mengatakan, waktu perang antara Pajajaran dengan Banten-Cirebon (Islam) tentara Pajajaran membangun padepokan untuk melatih para prajuritnya dalam mempertahankan kerajaan. Padepokan ini dibangun dekat Sungai Ciliwung. Terletak antara pusat kerajaan Pajajaran (Bogor) dan Sunda Kelapa (Jakarta). Dari asal kata padepokan itulah kemungkinan nama Depok berasal.

Argumen yang menguatkan pendapat tersebut yaitu adanya nama-nama kampung di Depok yang menggunakan bahasa Sunda. Nama kampung tersebut seperti Parung Blimbing (di Depok Lama) di selatan, Parung Malela di utara dan Kampung Parung Serab di sebelah timur seberang Ciliwung berhadapan dengan Parung Belimbing. Kampung-kampung tersebut terletak di tepi kali Ciliwung. Di saat terjadi peperangang, kampung-kampung tersebut dijadikan basis pertahanan tentara Pajajaran terhadap kemungkinan serangan Cirebon dan Banten ke pusat pemerintahan di Bogor melalui Kali Ciliwung. Kemungkinan yang lain, kampung tersebut dijadikan sebagai basis pertahanan untuk menyerang Sunda Kelapa.

Versi yang lain diungkapkan menurut ''Sejarah Singkat Kota Depok'' dinyatakan antara Perumnas Depok I dan Depok Utara terdapat tempat yang disebut Kramat Beji. Di sekitarnya terdapat 7 buah sumur berdiameter satu meter. Di sekitar sumur tersebut, ada beberapa pohon beringin yang besar dan rindang. Di bawah pohon beringin itu, terdapat sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci. Di dalam bangunan yang masih dapat kita jumpai terdapat banyak sekali senjata kuno, seperti keris, tombak dan golok. Menurut keterangan di Kramat Beji, dulu sering diadakan pertemuan antara Banten dan Cirebon. Jadi senjata-senjata ini peninggalan tentara Banten waktu melawan VOC. Ditempat semacam ini biasanya diadakan latihan bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut Padepokan. Dari sinilah, nama Depok kemungkinan besar berasal yakni dari kata Padepokan yang terletak di Kramat Beji.

Melalui bukunya yang berjudul ''Meluruskan Sejarah Depok'', H Baharuddin Ibrahim dkk membantah bahwa nama Depok berasal dari masa kerajaan Pajajaran. Alasannya, nama Depok di masa Pajajaran belum ditemukan, baik dalam naskah lama yang ditulis para penulis Portugis, maupun dalam cerita yang mengisahkan raja-raja Pajajaran. Menurutnya, padepokan baru dikenal setelah masa Islam. Karena untuk tempat yang sama di masa Hindu, orang menyebutnya sebagai Mandala.

Versi mana yang benar? Sangat menarik untuk diperbincangkan dan masih perlu penelusuran lebihh lanjut.

Sumber Referensi:
1. www.depok.go.id
2. http://ikatila.wordpress.com
3. http://Softoh-jamaah.blogspot.com
4. id.wikipedia.org/wiki/Kota_Depok

السبت، يوليو 25، 2009

Totalitas Bekerja, antara Periuk Nasi dan Penghargaan

Bagi sekolah swasta, Pendaftaran Siswa Baru (PSB) adalah salah satu kegiatan yang sangat penting. Oleh karena itu, setiap menjelang tahun ajaran baru tiba, setiap sekolah swasta telah mempersiapkan diri guna menjaring calon siswa baru. Kepanitiaan PSB dibentuk, agenda kegiatan pun direncanakan.

Sebagai seorang staf Tata Usaha, saya hampir selalu menjadi salah satu anggota panitia PSB. Seringkali saya ditempatkan di garda terdepan yakni di bagian pendaftaran. Di masa-masa awal, saya sempat grogi, gemetaran dan stres. Pasalnya, saya harus menghadapi dan menjawab berbagai pertanyaan dari calon orang tua siswa. Apalagi saya bertugas untuk menerima pendaftaran tingkat TK, SD, dan SMP. Praktis saya harus menguasai seluk beluk tentang TK, SD, dan SMP. Paling tidak, saya harus mengetahui tentang kurikulum, sistem pembelajaran, fasilitas, dan SDM atau guru-guru di tiga unit sekolah tersebut.

Suka, duka, malu, bangga, pahit, getir, manis dan asam saya alami serta rasakan dalam menjalani tugas tersebut. Jika saya bisa menjawab berbagai pertanyaan dari calon orang tua siswa dengan lancar dan bisa meyakinkan mereka untuk jadi mendaftar, tentu saya merasa senang. Namun jika tidak mampu menjawab pertanyaan dan tidak bisa meyakinkan bahkan mengecewakan mereka, betapa malu dan sedihnya saya.

Selain itu, ada pengalaman lain yang saya alami selama menjalani tugas sebagai panitia PSB. Ini soal motivasi anggota panitia PSB. Di tahun 2007 lalu, beberapa orang tepatnya sebagian besar anggota panitia tidak ”bergairah” bahkan tak mau menjalankan tugasnya. Alasan mereka adalah, ”Kalau kita bekerja keras dan PSB sukses, nanti keenakan ketuanya. Yang bekerja keras kita, yang dapat nama ketuanya” demikian alasan mereka. Mereka beralasan begitu karena secara kebetulan yang menjadi ketua PSB adalah orang yang tidak mereka sukai.

Mendengar alasan mereka, saya hanya manggut-manggut saja. Berbagai pelajaran dan pengalaman yang telah saya dapatkan membuat saya tidak sependapat dengan mereka. Meski tidak sependapat, saya tak berani mengatakannya. Saya menyadari posisi saya sebagai bawahan.

Sebelum bekerja di tempat yang sekarang yakni di Sekolah Islam Al Syukro Ciputat, saya pernah bekerja di sebuah sekolah swasta di Depok, yakni di SMP-SMA Bintara Depok. Di sana saya bekerja selama 11 (sebelas) tahun. Di sekolah tersebut, saya mempunyai dua orang ”guru besar” yang akhirnya sangat mempengaruhi semangat dan cara kerja saya di kemudian hari. Pertama, Ketua Yayasan (Ibu Siti Nurul, SE), dan yang kedua adalah Kepala Sekolah (Bapak Drs. H. SK. Wastaatmadja). Keduanya mengajarkan semangat juang yang tinggi dalam bekerja. Mereka juga mengajarkan kepada saya bahwa dalam bekerja jangan asal bekerja, jangan sekedar melaksanakan kewajiban. Tetapi, bekerjalah dengan penuh kesungguhan untuk meraih hasil kerja yang maksimal.

Dalam sebuah kesempatan, mereka pernah mengingatkan kepada guru dan karyawan bahwa nasib kita, periuk nasi kita, sangat tergantung dari ada tidaknya, sedikit banyaknya siswa yang mendaftar. Jika banyak siswa yang mendaftar, untuk sementara amanlah nasib kita, amanlah periuk nasi kita. Namun jika sedikit siswa yang mendaftar, maka adalah tanda-tanda bahwa dapur kita bisa jadi tidak akan ngebul lagi di masa mendatang. Oleh karena itu, sebagai guru dan karyawan sekolah swasta kita harus bekerja sama bahu-membahu untuk mensukseskan kegiatan pendaftaran siswa baru. Betul, rizki Allah yang mengatur, tetapi apakah rizki itu turun begitu saja dari langit? Tentu kita harus bekerja keras untuk meraih rizki yang telah Allah tentukan itu.

Pelajaran dan pengalaman itulah yang membuat saya tetap terjaga dalam motivasi yang tinggi diantara apatisme rekan-rekan lainnya. Saya sadar betul bahwa maju mundur sekolah swasta sangat tergantung dari banyak tidaknya siswa yang mendaftar. Untuk itulah saya berupaya dan bekerja semaksimal mungkin untuk mensukseskan kegiatan PSB. Saya berusaha membantu, melayani, dan meyakinkan para pendaftar. Lebih dari itu, saya taburkan ”bumbu-bumbu” dan jurus-jurus rayuan agar mereka tertarik dan jadi mendaftar.

Saya bekerja dengan penuh totalitas. Saya melaksanakan semua tugas itu dengan senang dan riang gembira (meminjam istilah Pak Ersis Warmansyah Abas, penulis buku Menulis itu Mudah). Soal siapa yang akan dapat nama, itu penting tidak penting. Menurut saya lebih penting periuk nasi tetap bergoyang dibanding soal nama baik atau penghargaan. Jauh lebih penting lagi, saya bersyukur karena telah mampu berbuat kebaikan. Melayani orang tua siswa yang sedang mencari sekolah untuk anaknya itu kebaikan. Memungkinkan sekolah bisa memperoleh siswa yang banyak itu juga kebaikan. Menurut Pak Mario Teguh, salah seorang konsultan bisnis dan motivator Indonesia, hadiah dari kebaikan adalah kebaikan itu sendiri. Jadi, dalam totalitas saya bekerja, saya temukan dan dapatkan kebaikan terselip diantara periuk nasi dan nama baik atau penghargaan.

Salam Super,

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...