الاثنين، نوفمبر 23، 2015

Bukan Sekadar Membuat, Namun Bagaimana Meng-update Blog itu?

Sebelumnya saya pernah menulis tentang mudahnya membuat blog dan susahnya meng-update. Tulisan itu tertangal 14 September 2015. Berikutnya hanya satu tulisan yang diupdate tanggal 25 September 2015. Itu pun tulisan lomba yang diadakan PT AETRA, perusahaan Air Minum rekanan PDAM Jakarta. Setelah itu praktis saya belum meng-update blog ini hingga tulisan ini dibuat.

Jadi memang benar bahwa membuat blog itu mudah namun meng-update-nya yang sulit. Padahal kalau saya ingat-ingat, saya membuat blog mulai tahun 2007 itu sebagai sarana untuk berlatih menulis. Caranya adalah dengan meng-update blog sesering mungkin, sebanyak mungkin. Namun apa hendak dikata, semangat besar namun tenaga kurang. Dan ternyata, semangat saja tidak cukup.

Saking semangatnya belajar menulis, saya membuat banyak blog. Setiap layanan blog gratis saya coba membuatnya. Mulai dari Multiply, Blogdrive, Blogsome, My Opera, Livejournal, Blogspot, Wordpress, Dag Dig Dug, Blog Detik dan terakhir Kompasiana. Multiply kini berubah menjadi blog berbayar. Sebelum perubahan itu, Multiply memberitahu para pengguna sehingga saya sempat memindahkan tulisan saya ke Blogspot.

Blogdrive, Blogsome dan My Opera saya tidak tahu kabarnya. Blog Livejournal saya masih ada namun belum pernah update dan sering lupa pasword. Dag Dig Dug adalah blog keroyokan yang nasibnya saya juga tidak tahu lagi. Di Blog Detik saya ngos-ngosan jadi saya menyerah dan menyatakan mundur. Praktis sekarang saya hanya aktif di blogspot, wordpress dan kompasiana.

Ketika menulis ini, saya sedang “ngiler” dengan Indonesiana, blog keroyokan milik Tempo. Kepengin mendaftar dan punya akun di Indonesiana. Namun saya harus realistis. Sebelum mendaftar, saya harus bertaya pada diri sendiri, seberapa mampu saya bisa meng-update blog itu nantinya?”   


Salam nge-Blog.

الجمعة، سبتمبر 25، 2015

Bersama Aetra, Kita Selamatkan Air Tanah Jakarta



Untuk memenuhi kebutuhan air  baik untuk minum, mencuci dan kebutuhan lainnya, warga Jakarta umumnya menggunakan air tanah. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Untuk mengambil Air tanah Jakarta warga membuat sumur pantek atau dengan mesin air jetpam. Selain itu, sebagian warga Jakarta ada yang memilih menggunakan air bersih perpiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kebanyakan warga lebih memilih membuat sumur sendiri dari pada harus berlangganan air dari PAM. Warga menganggap hal itu lebih hemat karena hanya dibutuhkan biaya saat pembuatan sumur saja. Berbeda kalau berlangganan air dari PDAM. Selain menyiapkan biaya saat pemasangan instalasi,  warga juga harus mengeluarkan biaya langganan setiap bulan.

Padahal pendapat itu sesungguhnya tidak tepat. Karena dengan berlangganan air bersih perpipaan, warga akan mendapatkan air bersih yang terjamin kualitasnya. Sedangkan air tanah Jakarta tidak ada jaminan kalau air itu bersih dan layak pakai. Sering ditemukan air tanah Jakarta yang keruh dan bau. Bahkan sering juga ditemukan ar tanah jkarta yang mengandung bakteri dan mineral yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Selain itu kebanyakan masyarakat juga belum mengetahui dampak negatif dari pengambilan air tanah yang berlebihan. Jika dibiarkan, maka dampak negatif tersebut akan merugikan warga Jakarta sendiri. Ada beberapa dampak negatif yang perlu diketahui jika pengambilan air tanah Jakarta terus dilakukan. Dampak negatif tersebut antara lain turunya permukaan tanah atau land subsidance dan intrusi air laut.

Pengambilan air tanah yang terus menerus dan berlebihan akan mengakibatkan turunnya permukaan tanah atau land subsidance. Jika hal itu terus terjadi maka akan sangat berbahaya bagi warga Jakarta sendir. Selain banjir, juga akan mengakibatka kerusakan pada bangunan fisik gedung-gedung yang ada di Jakarta. 

Dampak negatif lainnya yakni intrusi air laut. Pengambilan air tanah yang terus menerus akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan hidrostatik antara air tanah tawar dan air tanah asin (air laut) di daerah pantai. Jika hal itu maka akan mengakibatkan pergerakan air tanah asin (air laut) menuju ke daratan dan terjadilah intrusi air laut. Jika ini terjadi maka air tanah yang tadinya layak minum mengalami degradasi mutu dan menjadi tidak layak untuk diminum.

Mengingat dampak negatif tersebut, maka penggunaan air tanah di Jakarta harus segera dibatasi atau bahkan dihentikan. Menurut data dari Badan Geologi, ESDM, neraca Air Tanah Jakarta saat ini adalah, potensi air tanah 52 juta m3/tahun. Sedangkan pengambilan air tanah 21 juta m3/tahun atau sebesar 40%. Seharusnya pengambilan air tanah maksimal 20%. Sehingga kondisi pengambilan air tanah di Jakarta dikategorikan kritis karena sudah melampaui batas maksimal.
 
Upaya pencegahan terus dilakukan berbagai pihak baik Pemerintah DKI Jakarta dan elemen masyarakat yang peduli lingkungan. Pemerintah Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub)  No 37 tahun 2009 tentang Kenaikan Pajak Air Bawah Tanah. Salah satu tujuan Pergub ini adalah membatasi pengambilan air tanah oleh warga. Sayangnya hingga saat ini Pergub No 37 tahun 2009 tersebut belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh pemerintah. Sehingga masih banyak warga yang melanggar Pergub tersebut. Ke depan Pemerintah DKI diharapkan untuk lebih tegas dan konsisten menerapkan Pergub terseut. 

Untuk memenuhi kebutuhan air bagi warganya, Pemerintah DKI Jakarta melalui PDAM telah menunjuk PT Aetra Air Jakarta untuk penyediaan air bersih perpinaan. PT Aetra Air Jakarta adalah nama baru daru PT Themes PAM Jaya (TPJ). Perusahaan ini telah mendapat hak dari Perjanjian Kerjasama dengan PAM Jaya, untuk mengelola, mengoperasikan dan memelihara sistem penyediaan air bersih. Wilayah operasional PT Aetra Air Jakarta adalah wilayah Jakarta sebelah timur sungai Ciliwung. Perusahaan ini memiliki visi yang sangat mulia yakn menjadi Penyedia Layanan Air Minum Terdepan di Indonesia.

Sebagai Bloger kita bisa ikut berperan aktif dalam menyelamatkan air tanah Jakarta. Upaya yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan informasi tentang dampak negatif pengambilan air tanah yang berlebihan. Melalui blog, facebook, twitter atau media sosial lainnya, kita sebarkan informasi ini. Kemudian menghimbau kepada warga Jakarta agar menggunakan air bersih perpipaan dari PT Aetra Jakarta. Dengan demikian warga Jakarta bisa memperole air bersih yang terjamin kualtasnya. Di saat yang sama, warga juga telah melakukan upaya penyelamatan air tanah Jakarta.

Daftar Referensi:
2.      www.aetra.co.id
3.      www.esdm.go.id
4.      Heruhendrayana.staff.ugm.ac.id/web/down/dampakabt.pdf

الاثنين، سبتمبر 14، 2015

Membuat Blog itu Mudah, Update-nya yang Susah

Dalam sebuah sesi pelatihan menulis, di akhir acara Moderator bertanya kepada para peserta: “Siapa yang sudah punya blog pribadi?” Tidak sampai separuh peserta yang mengangat tangannya. Moderator kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya: “Siapa yang sudah punya akun di Kompasiana?” Terlihat semakin sedikit peserta yang mengangkat tangannya.

Saya sebagai salah satu peserta pelatihan yang sudah punya keduanya. Karena itu tak heran jika akhirnya beberapa teman bertanya kepada saya. “Bagaimana sih caranya buat blog?” Saya jawab bahwa membuat blog itu mudah. Tinggal buka situs blog tersebut dan mendaftar. Misalnya untuk blogspot, maka buka www.blogger.com kemudian melakukan pendaftara. Begitu juga untuk Kompasiana, buka www.kompasiana.com kemudian melakukan pendaftaran.

Bagaimana caranya mendaftar? Gampang, tinggal klik daftar atau register, selanjutnya tinggal mengisi data yang diminta.

Jadi sebenarnya membuat blog itu mudah alias gampang. Yang sulit itu meng-update-nya atau mengisi blog tersebut dengan tulisan. Ini yang sering dialami banyak blogger, termasuk saya. Alhamdulillah, saya bersyukur hari ini bisa meng-update blog dengan tulisan ini.

Selamat nge-Blog

Sumber Foto: Google

السبت، مارس 21، 2015

Save Etika Sopan dan Santun

Akhir-akhir ini hati saya dibuat resah. Hampir setiap hari, baik di Medsos maupun di media mainstream, saya membaca sebuah argument yang menurut saya menyesatkan. “Dari pada bersikap sopan, santun penuh etika, tetapi penipu dan mencuri uang rakyat, lebih baik kasar, garang dan tak beretika, namun membela kebenaran dan melawan koruptor atau pencuri uang rakyat”. Argumen ini sedang ramai diperbincangkan masyarakat belakangan ini.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan argument itu. Namun saya sebagai orang tua dan orang yang bekerja di dunia pendidikan, sangat resah dibuatnya. Bukan tidak mungkin banyak orang yang akan salah mengambil kesimpulan dari argument tersebut. Bisa saja orang akan menyimpulkan bahwa orang yang sopan, santun dan beretika itu penipu, pembohong dan mencuri uang rakyat. Sebaliknya, orang yang garang, keras dan tak beretika itu pasti orang yang baik. Orang yang seperti itulah yang membela kebenaran dan melawan koruptor.

Masih Perlukan Etika, Sopan dan Santun?

Berawal dari perseteruan antara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok dengan DPRD DKI terkait anggaran Pemda DKI tahun 2015. Ahok menuduh DPRD menyelipkan anggaran siluman yang nilainya tak sedikit, 12,1 T. Ahok berang, DPRD pun tak terima tuduhan itu. Ketika perseteruan semakin memanas, pihak Kemendagri pun turun tangan.

Setelah melakukan pertemuan dengan kedua belah pihak secara terpisah, Kemendagri mempertemukan keduanya tanggal 5 Maret 2015 lalu. Tujuannya adalah untuk mencari titik temu dan kesepakatan. Dalam mediasi tersebut, Sekjen Kemendagri, Yuswandi A. Tumenggung bertindak sebagai mediator.

Sayang pertemuan tersebut menemui jalan buntu setelah tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak. Lebih dari itu, berakhir ricuh. Ahok marah-marah dengan jari tangannya menunjuk-nunjuk kea rah anggota DPRD. Sebaliknya, beberapa anggota DPRD juga berbicara lantang kepada gubernur Ahok. Bahkan konon sempat terdengan teriakan tidak etis di ruang pertemuan itu.

Melawan Ngantuk dengan Menulis

Obat ngantuk umumnya cuma dua, ngopi atau tidur. Bagaimana kalau kita cari obat yang lain. Apa itu? Menulis. Ya benar, menulis. Memang terasa ganjil, aneh dan sepertinya tidak mungkin. Jangankan menulis yang butuh konsentrasi dan pemikiran dalam, untuk menjaga mata tetap melek saja butuh perjuangan yang berat. Bagaimana bisa?

Bisa, caranya lakukan menulis dengan segera. Bergegaslah ke depan komputer atau laptop dan nyalakan. Mulailah menulis apa saja. Masalah berikutnya yang akan dihadapi adalah soal ide, mau menulis apa. Ini memang tidak mudah apalagi dalam kondisi sedang mengantuk. Namun tidak usah khawatir, pastikan dulu semangat untuk menulis. Ingat pesan para penulis senior, menulislah apa yang ada di pikiran. Sengantuk-ngantuknya orang, pasti tetap ada yang dipikirkan. Apa pun itu, tulis saja.

Mungkin sebelum ngantuk sempat memikirkan cicilan motor atau mobil yang belum sempat terbayarkan. Itu ide bagus dan bisa dikembangkan. Kita bisa menulis tentang bagaimana pesatnya perkembangan bisnis lising dan pembiayaan kendaraan bermotor. Bisa juga menulis tentang  bagaimana menciptakan atau mencari peluang bisnis sampingan agar mendapat dana tambahan untuk membayar angsuran kredit kendaraan bermotor.

Sesungguhnya Menulis itu Sulit (4)

Karena banyak orang bilang menulis itu gampang, maka saya pun semangat untuk menulis. Bermodal membaca koran, nonton televisi dan browsing internet, inspirasi pun bermunculan. Ide dan gagasan sudah sudah di kantong. Semangat pun sudah menyala. Tunggu apa lagi. Setelah segala perlengkapan disiapkan termasuk secangkir kopi plus ubi rebus, mulailah saya menulis.

Tak tik tok, tak tik tok, bunyi tuts laptop Toshiba keluaran empat tahun silam. Satu kalimat pembuka lancar. Disusul kalimat-kalimat berikutnya hingga tersusun dua alinea. Begitu masuk ke alinea ketiga, baru satu kalimat mandeg. Dua tiga menit ditunggu-tunggu nggak keluar juga itu kalimat. Buntu. Orang Depok bilang itu namanya Writer’s Block.

Apa itu Writer’s Block? Menurut Brahmanto Anindito dalam tulisannya, “Banyak Jalan untuk Merontokkan Writer’s Blok,” di warungfiksi.net, Writer’s Block adalah fenomena hilangnya secara sementara kemampuan seorang penulis dalam memulai atau melanjutkan tulisannya. Fenomena macet saat menulis ini bukan hanya dialami oleh penulis pemula, bahkan penulis profesional pun pernah mengalaminya.

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...