الثلاثاء، فبراير 28، 2012

Manusia Macam Apa Kita Ini?

Dalam sebuah ceramahnya di sebuah stasiun televisi swasta, Ustad Muhammad Nur Maulana atau yang lebih dikenal dengan Ustad Maulana menyampaikan  tiga macam atau golongan manusia.

Pertama, Manusia Batu. Ada atau tidak ada dia, sama saja. Kehadiran dan ketidak hadirannya sama sekali tidak ada pengaruhnya.

Kedua, Manusia Setan. Jika tidak ada dia, banyak orang malah merasa senang dan gembira. Sebaliknya, kehadirannya justru membuat orang lain was-was, terganggu, kurang nyaman dan khawatir bahkan takut.

Ketiga, Manusia Malaikat. Kehadirannya sangat didambakan dan selalu dinantikan banyak orang. Kalau ada dia, rasanya nyaman, tenteram, tenang dan aman. Jika tidak ada dia, rasanya ada yang kurang dan banyak orang yang merasa kehilangan. Itulah manusia yang sangat dibutuhkan kehadirannya oleh sesama. Betapa mulia manusia seperti itu.

Sekarang kita tinggal merenung diri masing-masing. Manusia macam apa kita ini?

الأربعاء، فبراير 22، 2012

Konsisten Menulis di Blog

Apa susahnya nulis blog? Padahal menulis untuk sebuah blog tidaklah sesulit menulis untuk Koran atau majalah. Tak perlu berpikir keras sampai mengernyitkan dahi untuk menghasilkan tulisan. Cukup hal-hal keseharian yang kita jumpai dan alami. Apa saja yang kita lihat dan dengar bisa  ditulis.

Tapi kenyataannya, tidak sedikit blogger yang lalai mengapdet blognya. Kalau tidak percaya, cobalah sekali-kali jalan-jalan, pasti akan kita temukan blog-blog yang terbengkalai. Termasuk blog saya ini. Jujur, saya akui itu.

Sebenarnya saya sudah lama menyadari hal itu. Namun tekad dan kemauan untuk mengapdet blog belum begitu kuat. Belakangan, tepatnya di akhir tahun 2011 lalu saya bertekad akan mengapdet blog semaksimal mungkin di tahun 2012. Bulan Januari,

Alhamdulillah saya mampu memposting dua tulisan. Di bulan Februari ini, saya sudah memposting empat tulisan dan masih ada waktu kurang lebih satu minggu. Siapa tahu bisa memposting satu dua tulisan lagi.

Target saya tidaklah muluk-muluk, minimal satu bulan dua postingan itu sudah cukup. Jika konsisten, maka setahun saya mampu memposting 24 tulisan. Itu minimal, bisa jadi lebih. Hal ini jauh lebih baik dibanding tahun 2011 yang hanya memposting 6 tulisan.

Idealnya memang satu hari satu tulisan, jadi setahun 365 tulisan. Tapi saya tak mau nafsu besar tenaga kurang. Tidak jarang yang ideal sulit teralisir. Bukan tak mau berusaha, tapi realistis lah. Step by step.

Selamat mengapdet blog Anda!

الخميس، فبراير 16، 2012

Intisari Khotbah Jum'at 10 Februari 2012

Intisari Khotbah Jum’at, 10 Februari 2012, di Masjid Nururrahman, Kedaung Pamulang Tangerang
Khotib: Ust. H. Syahroni CH.
Tema: Manusia sebagai Makhluk yang Sempurna

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Malaikat mempunyai akal tapi tidak mempunyai nafsu. Hewan memiliki nafsu namun tak memiliki akal. Sedangkan manusia memiliki keduanya, akal dan nafsu. Allah telah berfirman dalam surat At Tin ayat 4 yang artinya, “Sungguh Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
 
Selama akal masih berfungsi atau sempurna, maka hakekatnya sebagai manusia. Tetapi kalau akalnya tidak lagi sempurna, maka dia akan seperti hewan karena dia berperilaku hanya berdasarkan nafsunya. Jika akal seseorang tidak lagi sempurna, maka tidak lagi memiliki rasa kasih sayang dan belas kasihan terhadap orang lain dan sesama. 
 
Dengan akal itu pula manusia bisa bersyukur kepada Allah SWT. Bersyukur karena nikmat umur, iman dan Islam serta nikmat sehat. Karena ketiga nikmat itulah, kita semua bisa menghadiri undangan Allah untuk datang ke mesjid ini menunaikan solat jum’at. Banyak saudara-saudara kita yang saat ini masih berleha-leha, bercengkerama atau sibuk dengan pekerjaan atau dagangannya. Mereka panjang umur dan sehat, namun tidak diberi nikmat iman dan Islam. Sehingga mereka masih terus sibuk dengan urusan dunia dan mengabaikan undangan Allah bersolat Jum’at.

Hadis Rasulullah yang artinya; ada tiga yang mengantarkan jenazah seseorang, keluarganya, harta bendanya dan amal solehnya. Yang pertama dan kedua akan segera meninggalkannya ketika pemakaman usai dilaksanakan. Hanya yang ketiga, yang akan setia menemaninya, yakni amal sholeh. Maka yang perlu kita pikirkan adalah, sudahkah kita mengumpulkan amal soleh?

السبت، فبراير 04، 2012

Khutbah Jum'at: Ketetapan Allah

Khutbah Jum’at (3-2-2012) di Masjid Nururrahman, Kedaung Pamulang. Judul Ketetapan Allah.
Khotib: Ust. Ali Imran, SQ, S.Pd.

Setiap makluk sudah memiliki ketetapan masing-masing. Contoh Cacing, telah ditetapkan hidup nyaman dan bahagia tatkala berada di dalam lumpur yang berbau busuk.

Kalau kita pikir, apa enaknya hidup di dasar lumpur yang gelap dan bau busuk. Tapi itulah ketetapan Allah untuk makhluk bernama cacing. Kalau cacing itu di taruh di atas permadani yang indah atau di atas marmer, cacing itu malah merasakan sangat menderita, tidak nyaman bahkan mungkin mati.

Begitu juga dengan ikan. Ikan telah ditetapkan Allah bahwa dia akan hidup nyaman dan bahagia di dalam air. Apabila ikan diangkat dan dikeluarkan dari air, dia akan menerita dan mati.

Manusia telah ditetapkan Allah akan hidup bahagia jika dalam iman dan amal sholeh. Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nahl ayat 97 yang artinya;
“Barang siapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik; dan Kami member balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”

Kekayaan, tanpa iman dan amal sholeh tidak akan membuat manusia hidup bahagia. Banyak contoh yang ada di sekitar kita. Ada seorang yang kaya raya, mobilnya banyak, rumahnya mewah, istrinya cantik-cantik, tapi dia tidak bahagia. Bahkan  hidupnya berakhir dengan tragis dan mengenaskan. Dia bunuh diri dengan melompat dari lantai 7 sebuah gedung perbelanjaan. Dia kaya tapi tanpa iman dan amal sholeh. Orang seperti itu, hidupnya tidak akan bahagia.

Allah juga berfirman dalam Surat Al 'Asr (1-3):
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran”.

الجمعة، فبراير 03، 2012

Mendengarkan Radio dan Menonton Televisi

 
Minggu, 29 Januari 2012, saya bertugas piket psb. Iseng saya mendengarkan radio Sonora. Lumayan, bernostalgia. Maklum dulu saya memang suka sekali mendengarkan Saya suka mendengarkan radio sejak masih kecil. Bahkan Setiap belajar, saya selalu sambil mendengarkan radio. Maklum jaman saya kecil hingga remaja dulu, televise masihg menjadi barang langka.

Belakangan, pamor radio semakin berkurang seiring perkembangan televisi yang semakin pesat saja. Radio menjadi pilihan nomor dua setelah televisi. Bahkan menjadi nomor tiga barangkali setelah hadirnya internet.

Secara kebetulan di pagi itu, ada acara resensi buku. Saat itu membahas sebuah buku tulisan Rene Suhardono, hanya karena judulnya berbahasa inggris dan panjang, jadi saya lupa. Penyiar member kesempatan para pendengar untuk mengajukan pertanyaan ataupun komentar melalui sms. Sonora menyediakan hadiah 5 buah buku bagi pengirim pertanyaan terpilih. Tertarik tema dan hadiah buku, saya ikut sms, mengirim pertanyaan.

Pertanyaan saya, mana lebih penting untuk menunjang karir, pendidikan atau pengalaman? Saat yang ditunggu tiba, pertanyaan saya dibaca dan dibahas. Rene Suhardono member penjelasan bahwa yang terpenting adalah bagaimana memaknai pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang didapat untuk dipraktikkan. Praktik itulah yang akan membentuk pengalaman. Jadi menurutnya, pendidikan dan pengalaman tidaklah harus dipisahkan. Keduanya penting dan saling terkait.

Di akhir acara, nama saya menjadi salah satu yang berhak atas hadiah buku karya Rene Suhardono tersebut. Sayangnya, setelah saya konfirmasi ke Sonora, hadiah harus diambil sendiri ke studio. Saya kira dikirim, karena sebelumnya saya juga pernah mendapatkan hadiah serupa dari radio yang lain. Dua kali saya dapat dan dikirim ke alamat. Tapi, ya sudah. Bukanya tidak bersyukur, tapi kalau harus mengambil sendiri ke Sonora, ya nanti dulu lah. 

Malam harinya, saya sempat menonton Mario Teguh Golden Ways. Sebenarnya acara tersebut acara favorit bagi saya, namun jadwal yang berbarengan dengan siaran langsung ISL dan terkadang banyak acara menarik lainnya, membuat MTGW sering saya lewatkan. Minggu, 29 Januari 2012 temanya sangat menarik, sayang saya hanya mengikuti sepotong. Jadi hanya sedikit yang bisa saya tangkap, diantarnya tentang keberanian. Orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang berani melakukan sesuatu dengan segala risiko. Pada dasarnya semua orang mempunyai rasa takut. Bedanya, orang yang berani tidak berfokus pada rasa takutnya, melainkan dia berfokus kepada apa yang ingin diraihnya.

Poin kedua yang menarik adalah jangan sampai kita sibuk melakukan sesuatu yang tidak membawa kita ke mana-mana. Pak Mario mencontohkan, orang yang sibuk naik kuda-kudaan. Orang yang naik kuda-kudaan itu sibuk, tapi orang itu tidak akan sampai ke mana-mana. Kalau begitu, jangan sampai kesibukan kita seperi orang yang sibuk main kuda-kudaan. Tetap di tempat dan tidak akan sampai ke mana-mana.

Saat saya mendengarkan radio dan menonton televisi tidak dengan penuh konsentrasi. Saya melakukan itu sambil mengerjakan sesuatu yang lain. Jadi mungkin apa yang saya tulis tidak persis dengan materi yang sebenarnya. Tapi, setidaknya itulah hal penting yang saya ingat.

الأحد، يناير 08، 2012

Tentang Panggilan Mas dan Mbak

Ada dua peristiwa yang menggelitik hati saya tentang sebutan atau panggilan Mas dan Mbak. Pertama, suatu ketika salah seorang teman facebook saya berkomentar setengah protes tentang nama tampilan facebook saya. “Kalau melihat fotonya sih seharusnya Pak Badiyo, bukan Mas Badiyo”, katanya. Dengan agak geregetan saya jawab, “Mas itu kan panggilan orang jawa kepada kakak laki-laki oleh adik-adiknya. Jadi, sampai kapan pun adik saya tetap memanggil saya Mas, walau pun saya sudah menjadi bapak-bapak.”. Mas bukan hanya panggilan bagi remaja atau orang muda saja.

Saya agak geregetan karena melihat namanya sepertinya dia orang jawa. Seharusnya sebagai orang jawa dia tahu tentang panggilan Mas itu. Asalnya Kangmas, panggilan bagi kakak laki-laki yang kemudian dipersingkat menjadi Kang saja atau Mas saja. Lagi pula, Mas yang saya cantumkan di depan nama saya toh sebagai identitas di facebook. Bahkan kalau kita perhatikan, banyak orang yang memakai nama yang aneh-aneh sebagai id facebooknya. Saya tidak perlu yang aneh-aneh, tapi yang penting ada ciri khasnya. Karena orang jawa dan beberapa orang terutama adik saya memanggil Mas, maka jadilah akun facebook saya Mas Badiyo.

Kedua, Salah seorang famili dari istri mewanti-wanti bahwa dia tidak mau anaknya dipanggil mbak oleh adik-adik sepupunya. Lebih baik memanggil dengan sebutan Kakak. Sebabnya adalah menurut dia mba itu panggilan untuk para pembantu rumah tangga. Tidak dapat dipungkiri bahwa belakangan banyak keluarga di kota besar seperti Jabodetabek menyerahkan urusan anak kepada pembantu rumah tangga. Suami istri sibuk bekerja.Urusan anak-anak diserahkan ke para pembantu. Para majikan memanggil pembantu itu dengan panggilan Mbak. Mereka sekaligus membahasakan panggilan itu untuk anak-anak mereka. Jadilah panggilan Mbak itu identik dengan para pembantu rumah tangga.

Meski fakta itu benar adanya, namun saya kurang setuju jika panggilan Mbak itu milik para pembantu. Sebagai orang jawa, saya bertahun-tahun telah memahami bahwa Mbak itu adalah panggilah terhadap kakak perempuan oleh adik-adiknya. Kalau tidak salah asal katanya adalah Mbakyu yang artinya kakak perempuan. Panggilan itu dipersingkat menjadi Mbak saja atau yu saja.

Itulah salah satu ragam dan keunikan orang jawa. Orang jawa itu memang unik. Semoga keunikan itu tidak sampai punah akibat penyempitan makna yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Salam,

الأربعاء، يناير 04، 2012

Menulis Melawan Keluh Kesah

Kalau mengeluh itu baik adanya, bisa jadi kita seharian mengeluh terus. Mulai dari berangkat ke kantor, jalanan macet, melihat pengguna jalan lain yang masa bodoh, tidak peduli, wajar kita mengeluh. Sesampai di kantor, mendapati rekan kerja yang kurang kooperatif, pelanggan yang complain, wajar juga jika kita mengeluh.

Namun mengeluh itu suatu sikap atau tindakan yang negatif dan tak ada gunanya. Toh jika mengeluh, apa segala persoalan akan selesai? Tidak. Jadi, dari pada mengeluh lebih baik mencari jalan keluar dari masalah yang sedang kita hadapi.

Beberapa hari mengawali tahun baru 2012, kesibukan langsung menyambut saya. Lagi-lagi, saya kembali terperangkap dalam rutinitas kantor yang tak berujung. Berangkat pagi, pulang petang, sesampai di rumah, tenaga habis, loyo. Kalau sudah begini caranya setiap hari, sayapikri wajar-wajar saja jika saya mengeluh. “Huh, di kantor sibuk terus setiap hari, capek rasaya. Terus kapan saya bisa menulis?”

Padahal, saya berkeinginan menjadi penulis. Saya telah menyadari, betapapun baiknya prestasi kerja, karir saya sudah mentok. Jalan satu-satunya untuk mencapai puncak karir adalah dengan menjadi penulis.

Karena mengeluh bukan solusi, maka saya berusaha menghindari dan melawannya. Sambil melepas lelah usai sholat Maghrib, saya menulis dua tiga alinea. Dengan berbekal segelas kopi, saya menulis melawan lelah dan keluh kesah.

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...