الخميس، يناير 09، 2020

Rafting vs Ramonan



Senin pagi, 6 Januari 2020 Ciputat diguyur hujan. Jam setengah enam lewat sedikit, saya sudah berkemas-kemas. Dengan berpayung, saya meluncur ke Taman Kuliner Ciputat. Demi memenuhi kewajiban mengikuti kegiatan Employ Gathering. Sesampai di Tamkul (Taman Kuliner) Ciputat, baru beberapa gelintir orang terlihat di bus.

Di surat pemberitahuan tertera jam kumpul 05.00 WIB. Sedari awal saya kurang yakin dengan ketentuan waktu itu. Ini ditambah hujan deras pula. Ketika saya sudah duduk di bus, sekitar jam 06.20 baru ada informasi bahwa pemberangkatan diundur menjadi 06.30 WIB. Alasannya banyak peserta yang terkendala hujan. Ya gak kaget, wong sudah saya duga.

Jam 06.30 WIB pun masih meleset. Di bawah rintik gerimis, bus akhirnya berangkat jam 06.55 WIB menuju Arung Jeram Alamanda Caringin – Bogor. Ada dua bus yang membawa rombongan Karyawan Perguruan Islam Al Syukro Universal. Rute yang ditempuh adalah Tol Lebak Bulus menuju Tol Jagorawi.

Sekitar jam delapan lewat, bus pembawa rombongan Employ Gathering berhenti di Rest Area Sentul. Seperti biasa, untuk memberi kesempatan peserta ke Toilet. Apalagi cuaca begitu dingin. Gerimis masih terus saja mengguyur ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar sembilan lewat (kalau tidak salah), rombongan Employ Gathering Al Syukro Universal tiba di Arung Jeram Alamanda Caringin – Bogor. Panitia (EO) dari Arung Jeram Alamanda Caringin menyambut rombongan Employ Gathering Al Syukro dengan ramah dan penuh suka cita. Peserta Employ Gathering dipersilakan untuk beristirahat sejenak. Sekitar 20 – 30 menit.

Setelah beristirahat, EO Alamanda Arung Jeram meminta para peserta untuk berkumpul di areal lapangan. Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh Ustad Elan Jaelani. Dilanjutkan dengan sambutan Direktur Perguruan Islam Al Syukro Universal, Ibu Cicih Kurniasih.

Setelah itu, beragam permainan, game-game pun mulai dimainkan. Kegiatan itu berlangsung di bawah guyuran hujan yang rupanya tak mau berhenti. Semua peserta basah kuyup diguyur hujan. Kecuali saya, dengan handycam jadul Merek Sony, saya mengabadikan kegiatan itu dari Saung. Alhamdulillah. Acara berlangsung sampai sekitar jam 10.30 WIB.  

Kegiatan dilanjutkan dengan Rafting di sungai Cisadane, Caringin - Bogor. Sebelum rafting dimulai, EO memberikan pembekalan, tata cara dan tata tertib pelaksanaan rafting. Peserta diminta untuk membentuk kelompok dengan jumlah 6 orang campur laki-laki dan perempuan. EO tidak menyarankan regu terdiri perempuan semua. Hal itu untuk mengantisipasi jika terjadi kendala di lapangan. Jadi, setiap regu harus ada peserta laki-lakinya.

Sebelum terjun ke sungai Cisadane, peserta rafting menyempatkan untuk foto bersama. Saat itulah saya mencari lokasi yang pas untuk mengabadikan peserta rafting. Saya jalan beberapa puluh meter dari lokasi kumpul peserta. Dari bawah sebuah saung, saya mengabadikan teman-teman peserta rafting. Hasilnya memang tidak sempurna. Maklum, peralatan seadanya. Jadul pula. Lokasi juga tidak terlalu strategis. Tapi saya pikir gak papa. Lumayan lah.

“Pak Badiyo gak ikut Rafting?” tanya seorang teman

Sejujurnya, kalau lihat teman-teman naik perahu karet menyusuri sungai, hati saya ini gak karuan rasanya. Pikiran melayang ke masa silam. Saat usia masih belasan, hampir tiap hari saya main di sungai. Bahkan sejak masih di SD.

Rumah orangtua saya dulu memang dekat dengan sungai Serayu. Sekitar dua ratus meteran lah. Di desa Kembangan Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Kampung itu dilewati sungai yang cukup besar, Serayu. Ya, sungai yang membentang dari dataran tinggi Dieng di Wonosobo mengalir melewati wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan akhirnya bermuara di Cilacap.

Bagi saya, berenang dan bermain di sungai dulu itu biasa. Hampir setiap hari, saya bercengkerama dengan derasnya sungai Serayu. Menyeberang dari satu sisi sungai ke sisi yang lain. Loncat dari atas perengan, lalu nyebur dan berenang ke sana kemari.

Walaupun memang kondisi sungainya sedikit berbeda. Tidak ada batu-batu besar di sungai Serayu di kampung saya. Ini berbeda dengan sungai Cisadane di Caringin Bogor yang banyak batu-batu besar.
Dulu saat saya main di sungai gak pakai alat bantu apa pun. Kalau pun ada alat bantu,  paling-paling pakai ramon. Tahu apa itu ramon? Ya, ramon adalah batang pohon pisang. Satu batang pohon pisang dipotong bisa jadi dua atau tiga bagian. Ramon itulah yang dipakai anak-anak kampung untuk menyusuri sungai. Ramonan kata anak-anak di kampung saya dulu. Tapi itu jarang. Anak-anak kampung lebih sering bermain di sungai tanpa alat apapun.  

Ya, tapi itu dulu, saat saya masih usia belasan tahun. Sekarang, saya harus sadar diri. Kondisi fisik sudah jauh berubah.  Terlebih, jauh-jauh hari istri sudah wanti-wanti. “Gak usah ikut-ikut permainan ya! Permainan apa pun gak usah ikut. Inget usia kita, gak muda lagi!” pesan istri.

Terima kasih, istriku, Retno Utari sudah mengingatkan. Kalau gak, mungkin saya ini gatel liat teman-teman main rafting. Bawaannya pengin nyebur aja. Hahaha. Habis, inget dulu waktu masih anak-anak di kampung. Main di sungai itu mainan saya. Kalau kata anak sekarang, “Gue banget” itu. Hahahaha. Tapi ya sudah lah, apa boleh baut.

Saya cukup jadi penonton yang produktif. Loh, apa maksudnya penonton yang produktif. Ya, saya tidak cuma nonton doang. Sambil nonton, saya dokumentasikan teman-teman yang ikut rafting.  Meski hasilnya gak bagus-bagus amat, tapi lumayan lah. Ada dokumentasinya. Teman-teman bisa lihat di akun youtube saya, Mas Badiyo. Alhamdulillah.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...