الأحد، يونيو 20، 2010

Piala Dunia Afrika Selatan, Unik dan Penuh Kejutan

Perhelatan akbar Piala Dunia 2010 Afrika Selatan sedang berlangsung. Selama satu bulan penuh, dari 11 Juni hingga 11 Juli 2010, penduduk dunia dilanda ”demam” Piala Dunia. Milyaran penduduk bumi dipastikan mengikuti dan menyaksikan gelaran sepak bola terakbar di dunia, baik langsung maupun melalui layar kaca. Piala Dunia akan menyihir dunia.

Piala Dunia  2010 di Afrika Selatan adalah yang ke-19 sejak hajatan empat tahunan itu mulai digelar tahun 1930 di Uruguay. Afrika Selatan mencatatkan diri dalam sejarah sebagai negara pertama di Benua Afrika yang menjadi tuan rumah Piala Dunia. Meski sebelumnya banyak pihak yang meragukan kesiapan Afrika Selatan untuk menggelar pesta besar, Piala Dunia. Masalah keamanan dan transportasi menjadi sorotan tajam.

Afrika Selatan tak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh federasi sepak bola dunia, FIFA. Negeri yang pernah dikutuk dunia karena politik apartheid itu pun akhirnya mampu menyelenggarakan pesta yang selalu dinanti-nanti pecinta sepak bola di seluruh dunia. Hal itu sekaligus menjawab keraguan yang dikhawatirkan banyak pihak.

Hingga memasuki hari ke-10, penyelenggaraan berlangsung lancar dan aman meski ada satu dua kejadian cukup menyita perhatian. Mulai dari pencurian yang menimpa tim Yunani, Uruguay dan juga beberapa wartawan. Suara bising vuvuzela juga cukup mengganggu para pemain sehingga menyulitkan mereka untuk berkomunikasi di lapangan. Terakhir adalah menyusupnya penonton ke ruang ganti tim Inggris usai Steven Gerrad dan kawan-kawan ditahan imbang 0-0 oleh Aljazair. Namun, semua itu tak sampai mengganggu jalannya Piala Dunia, meski tetap menjadi catatan tersendiri.

Selain itu, di lapangan hijau juga mulai terjadi kejutan. Unggulan pertama Spanyol justru tumbang 0-1 dari tim yang tidak diunggulkan, Swiss di laga perdana. Kejutan kedua terjadi saat Jerman takluk dari Serbia 0-1. Salah satu unggulan lainnya yaitu Inggris juga tampil tak meyakinkan. Dua kali main, Three Lions hanya meraup dua poin hasil dari bermain imbang. Ditahan Amerika Seikat 1-1 dan bermain kacamata 0-0 melawan Aljazair.

Dalam perhelatan Piala Dunia, memang selalu ada hal menarik yang terjadi, baik di bangku penonton, di lapangan hijau maupun di luar lapangan. Apalagi Piala Dunia 2010 dimana Afrika Selatan sebagai tuan rumah memiliki berbagai macam keunikan. Mulai dari tradisi terompet vuvuzela hingga aksi para muti, sebutan bagi dukun di sana yang senantiasa mendukung tim kesayangannya.

Telah ditayangkan di KabarIndonesia

Foto: google

Afrika Selatan, dari Jabulani Hingga Vuvuzela

Afrika Selatan, negeri yang pernah dikutuk dunia karena menerapkan politik apartheid akhirnya mampu menyelenggarakan Piala Dunia 2010. Meski sebelumnya banyak pihak yang meragukan terutama dari segi keamanan dan transportasi. Bertempat di stadion Soccer City, Johannesburg, Piala Dunia 2010 resmi dimulai tanggal 11 Juni 2010 yang lalu. Hajatan sepak bola terbesar di dunia itu akan berlangsung selama satu bulan penuh hingga 11 Juli 2010 mendatang. 

Selama sebulan inilah para pecinta sepak bola di seluruh dunia akan dimanjakan dengan penampilan-penampilan eksotis dari 32 tim peserta putaran final piala dunia. Selama putaran final piala dunia digelar, para pecandu bola akan senantiasa memelototi layar kaca.  Anton Sanjoyo, seorang pengamat sepak bola menyebutnya sebagai bulan keramat pecandu sepak bola.  Sepak bola mampu menyihir separuh lebih penduduk dunia. Itulah sepak bola.

Ketika putaran final Piala Dunia sedang digelar, perhatian dunia mengarah ke Afrika Selatan, tempat berlangsungnya pesta tersebut. Afrika Selatan pantas berbangga karena telah mampu mencatatkan diri dalam sejarah sebagai negara di Benua Afrika pertama yang menjadi tuan rumah piala dunia. Dengan segala keterbatasan, negeri di ujung selatan benua hitam itu mampu menggelar pesta sepak bola terakbar di dunia.

Berbagai hal khas Afrika pun menjadi berita sehari-hari yang kita lihat dan dengar. Mulai dari Jabulani, Waka Waka, hingga Vuvuzela. Jabulani adalah bola resmi yang digunakan pada piala dunia 2010. Jabulani menurut bahasa suku Zulu, Afrika berarti merayakan atau pesta. Bola tersebut diresmikan oleh Presiden FIFA, Sepp Blatter, 4 Desember 2009 di Cape Town. Setelah beberapa pertandingan dilangsungkan, banyak yang mengeluh tentang kualitas bola ini. Bola buatan Adisas ini menjadi kambing hitam atas minimnya gol yang terjadi dan blunder beberapa penjaga gawang. Apa pun alasannya, bola tersebut sudah secara resmi ditetapkan oleh FIFA.

Waka-Waka (This Time for Africa) adalah theme song Piala Dunia 2010 yang dirilis oleh Shakira, artis cantik asal Kolombia. Lagu dengan nuansa etnis Afrika itu hampir setiap hari berkumandang, baik di stasiun-stasiun radio maupun televisi. Sajian-sajian berita seputar piala dunia, selalu diiringi oleh lagu ini. Meski Waka-waka bukan satu-satunya theme song  Piala Dunia 2010. Ada Wavin Flag oleh K'Naan dan Sign of Victory oleh Robert Kelly. Namun menurut Surya Online, Waka-Waka diputar sebanyak 518 kali di 30 radio dan enam televisi. Angka tersebut mengungguli Wavin Flag dan Sign of Victory.

Saat upacara pembukaan dan setiap berlangsungnya pertandingan, suasana stadion selalu bising dengan suara mirip lebah. Para pemain dan pelatih merasa terganggu dengan suara tersebut karena mengganggu komunikasi antara mereka. Suara itu adalah suara terompet khas Afrika Selatan bernama Vuvuzela. Awalnya, vuvuzela terbuat dari tanduk antilop. Di masa lalu, orang Zulu menggunakannya untuk mengundang orang-orang desa untuk berkumpul. Seiring perkembangan, vuvuzela dibuat dari seng dan kemudian dari plastik sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini.

Piala Dunia adalah sebuah fenomena dunia. Sementara Afrika Selatan adalah sebuah negara dengan berbagai keunikan dan kekhasannya. Maka jadilah Piala Dunia 2010 menjadi Piala Dunia yang memiliki ciri khas sendiri dibanding piala dunia yang lain. Dari Jabulani hingga Vuvuzela.

Salam olah raga.

Foto: google

الثلاثاء، يونيو 15، 2010

Tataplah Afrika dan Abaikan yang Lain

Hajatan sepak bola empat tahunan telah dimulai hari Jumat (11/6-2010) di Afrika Selatan. Selama kurang lebih satu bulan, yakni  hingga 11 Juli 2010, milyaran penduduk bumi akan mengarahkan perhatian mereka ke negeri di ujung selatan benua Afrika.

Di negara terkaya di benua hitam itu akan dipertontonkan drama yang dimainkan aktor-aktor bola di lapangan hijau.  Sederet bintang seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka, Robinho, Fernando Torres, David Villa, dan Robin van Persie siap menghibur dengan kelihaian mereka dalam mengolah bola.  Tiga puluh dua negara akan beradu taktik dan strategi untuk memperebutkan gelar terbaik di dunia.

Demam piala dunia akan menyerang ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Hari-hari menjelang bergulir, berbagai tempat perbelanjaan, baik di pasar tradisional maupun super market sudah dipenuhi dengan atribut dan pernak-pernik piala dunia. Di berbagai tempat, di kantor-kantor, di pos kamling, di pasar, di kompleks perumahan elit dan di sekitar rumah kontrakan, orang sibuk dan asyik memperbincangkan piala dunia. Bahkan banyak orang yang telah memajang jadwal piala dunia di dinding rumah atau di pos ronda.

Untuk sementara waktu, orang akan melupakan hal-hal lain di luar sepak bola. Kasus Century, Bibit-Chandra, hingga kasus video mesum Ariel Peterpan bersama Luna Maya dan Cut Tari akan segera dikesampingkan. Orang akan lebih memperhatikan piala dunia dibanding hal lain. Maka jangan heran jika banyak orang akan cuek dan tidak tertarik untuk memperbincangkan politik atau hal lain di luar sepak bola. Tak akan ada perbincangan yang hangat dan menarik kecuali sepak bola dan piala dunia.

Brasil, Spanyol, Inggris, Argentina, Italia, Jerman, Belanda dan Afrika Selatan mungkin akan menjadi negara yang paling sering diperbincangkan di seluruh dunia dalam beberapa hari ke depan. Piala Dunia akan menjadi tema perbincangan yang paling menarik. Bagi penggila bola, saat ini tak ada yang lebih menarik selain Piala Dunia.

Jadi untuk sementara waktu, tataplah Afrika Selatan dan abaikan yang lain. Selamat menikmati hiburan terbesar dan terindah di tahun ini, Piala Dunia 2010 Afrika Selatan!

Telah ditayangkan di KabarIndonesia

الثلاثاء، أبريل 20، 2010

Aroma Sampah di Otista Raya Ciputat

Angkot berwarna putih meluncur di Jalan Otista Raya dari arah Pamulang menuju Ciputat. Di bawah terik matahari yang kian menyengat, angkot itu melaju dengan kencang. Sesampai di tikungan, tepat di depan gerbang masuk pasar Cimanggis, beberapa penumpang khususnya para wanita mulai siap-siap menutup hidung. Mereka sepertinya sudah hafal bahwa sebentar lagi bau menyengat akan segera menghadang. Bau itu datang dari sampah pasar yang menggunung di pinggir jalan, di ujung pasar itu.

Menurut beberapa warga sekitar, kondisi sampah yang menumpuk di pinggir jalan itu sudah terjadi semenjak pasar Cimanggis beroperasi, di tahun 2000. Pasar Cimanggis dibangun Pemerintah tahun 1999 sebagai alternatif bagi warga Ciputat dan Pamulang selain Pasar Ciputat yang sudah ada. Jarak antara kedua pasar itu hanya berkisar 1.5 km.

Selama ini, sampah memang menjadi masalah klasik bagi warga ibu kota Jakarta dan sekitarnya termasuk Ciputat. Sebelum pasar Cimanggis dibangun, sampah di pasar Ciputat juga sudah menjadi permasalahan karena selalu menumpuk di pinggir jalan. Setelah diangkut, sehari kemudian sampah sudah menggunung lagi di sana, begitu seterusnya.

Maka tak heran jika saat Ciputat lepas dari kabupaten Tangerang dan bergabung dengan enam kecamatan lain menjadi Kota Tangerang Selatan, banyak warga berharap persoalan sampah akan segera teratasi. Namun harapan tinggal harapan. Kenyataan yang terjadi berkata lain. Persoalan sampah belum menemui jalan keluar.

Bahkan sepertinya persoalan menjadi semakin pelik. Pasalnya, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Tangerang yang selama ini mengurusi sampah Ciputat sudah melepaskan tanggung jawabnya. Sementara Pemerintah Kota Tangerang Selatan yang baru terbentuk tahun 2009 belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA)  sampah sendiri. Beberapa daerah lain seperti kabupaten Tangerang dan DKI menolak menerima sampah dari Tangerang Selatan.

Maka tak ada pilihan bagi pemerintah kota Tangerang Selatan kecuali harus membuat TPA sampah sendiri. Oleh karena itu,  Pemkot Tangerang Selatan akhirnya membangun TPA di Cipeucang, Serpong. Lokasi TPA tepatnya di Desa Kademangan, Kecamatan Setu. Namun baru seminggu beroperasi, TPA diblokir warga sekitar. Warga Kelurahan Serpong yang berada dekat dengan lokasi TPA merasa keberatan karena beberapa alasan. Alasan tersebut antara lain bahwa pembangunan TPA itu belum melalui sosialisasi dengan warga sekitar. Selain itu, warga Serpong merasa terganggu dengan bau sampah itu.

Sampah memang barang atau sesuatu yang sudah tidak berharga lagi sehingga dibuang. Namun persoalan yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sepele. Butuh keseriusan dan kerja sama semua pihak untuk mengurusnya. Jika tidak, sampah akan terus menjadi persoalan yang tiada kunjung selesai.

Satu per satu angkot meluncur di Jalan Otista Raya Ciputat dan sebentar lagi akan melintasi Pasar Cimanggis. Para penumpang pun bersiap menutup hidung. Sebagian yang lain tampak tak ambil pusing atau mungkin sudah terbiasa dengan bau sampah itu. Entah sampai kapan masalah ini akan teratasi.

Tulisan ini sudah ditayangkan di Harian Online KabarIndonesia (HOKI).

الخميس، أبريل 15، 2010

Tren Baru, Bekerja di Rumah

Judul Buku: KERJA DI RUMAH EMANG 'NAPA?
Penulis: Anang Y.B
Tebal: 152 + xxiii halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2009
ISBN: 978-979-22-5104-3

Tidak dapat dipungkiri bahwa bekerja tanpa kantor atau bekerja di rumah  menjadi tren baru saat ini. Faktor keluwesan dalam mengatur waktu kerja menjadi salah satu alasannya. Tentu ada faktor-faktor lain seperti ingin bekerja sambil mendampingi proses perkembangan anak-anak, bebas dalam berkreasi, menentukan sendiri besarnya penghasilan, bekerja bebas tanpa disuruh-suruh bos dan sebagainya.

Sederet alasan melatar belakangi banyak orang untuk memilih bekerja di rumah. "Jika ada seribu orang yang bekerja di rumah, bisa jadi ada seribu alasan pula yang bisa kita kumpulkan atas pertanyaan: Mengapa mereka memilih mencari uang dari rumah?" (Halaman 3).

Penulis, Anang Y.B. sangat jeli melihat tren yang terjadi belakangan ini. Dengan modal pengalaman pribadi dan orang-orang yang pernah ditemui, dia menulis buku ini. Buku "KERJA DI RUMAH EMANG 'NAPA?"  bisa menjadi panduan bagi siapa saja yang berkeinginan mencari nafkah dari rumah. Tidak sedikit karyawan kantoran yang mulai melirik peluang tersebut. Namun minimnya pengetahuan membuat mereka ragu untuk memulainya.

Pada halaman 4 buku ini, Anang Y.B. akan memandu bagaimana untuk memulai bekerja dari rumah. Ada tiga alternatif yang disodorkan. Alternatif pertama adalah tetap bekerja pada orang lain, kedua berkolaborasi dan ketiga jalan sendirian. Alternatif mana yang cocok? Tergantung dari kesiapan masing-masing pribadi.

Pembaca juga akan mendapat suntikan motivasi agar bisa menjadi orang yang sukses. Semua kesuksesan berawal dari mimpi. Meski terdengar klise namun hal itu benar adanya. "Tanpa mimpi, bisa jadi saya akan menyerah saat penerbit mengatakan naskah saya akan diterbitkan tahun depan saja. Ya, keinginan kuat yang muncul dari impian dan tidak kita biarkan terembus oleh angin bisa menjadi pendorong kita untuk sesegera mungkin menjadikan mimpi itu nyata". (Halaman 15).

Bagi pembaca yang selama ini merasa kurang percaya diri karena bekerja tidak sesuai dengan pendidikan, akan diyakinkan bahwa hal itu bukanlah persoalan. Di Solo, ada sebuah warung makan lesehan yang selalu ramai dipadati pengunjung. Satu hal yang menarik adalah sepasang suami istri pemilik warung itu. Suaminya adalah seorang sarjana hukum, sementara istrinya lulusan akademi sekretaris. "Bekerja tidak sesuai gelar, emang 'napa?" (Halaman 17-18).

Satu hal penting yang perlu diingat kalau ingin bekerja di rumah adalah untuk merubah mindset. Mindset seorang karyawan kantoran sangat berbeda dengan orang yang bekerja di rumah.  Beli seribu dijual sejuta. Itulah salah satu contoh mindset orang  yang bekerja di rumah dan mungkin tak pernah terpikirkan oleh karyawan kantoran.

Setelah keraguan untuk bekerja di rumah sudah terjawab dan mindset sudah diseting ulang, kini giliran mencari ide bisnis apa yang tepat. Pada bagian 2 buku ini,  diuraikan beberapa ide bisnis yang bisa dijalankan dari rumah. Mulai dari agen koran dan majalah, hobi yang ditekuni, agen kliping digital hingga membuka kursus.  Beberapa contoh tersebut hanyalah sebagian dari ribuan ide bisnis lain yang bertebaran. Tinggal kejelian dan kreatifitas dalam mencari serta menangkap ide-ide itu untuk segera ditekuni.

Jika sudah mantap memilih dan menjalankan bisnis dari rumah, langkah berikutnya adalah membesarkannya. Beberapa hal perlu dilakukan untuk membesarkan usaha. Mulai dari mengatur jam kerja, membangun komunitas baik offline maupun online, bagaimana bernegosiasi dan mencari modal usaha hingga masalah promosi. Semua hal itu akan dikupas pada bagian 3 buku ini mulai dari halaman 60 hingga 121.

Untuk lebih meyakinkan pembaca, Anang Y.B. memberi contoh kisah sukses pelaku bisnis rumahan (Bagian 4). Pada bagian ini menceritakan tentang kisah sukses seorang pelaku bisnis rumahan bernama Novi Trihastuti. Ibu dari dua anak itu sukses menjalankan bisnis batik Cirebon. Kenapa Batik Cirebon? Karena dia dilahirkan di Cirebon. Sering kali ide bisnis memang begitu dekat dan sederhana. Hanya orang-orang kreatif dan jeli  yang  mampu melihatnya.  

Pesan terakhir dari buku ini adalah Action Time, saatnya bertindak. Bisnis itu ada di alam nyata yang perlu adanya tindakan, bukan hanya rencana. Sebuah rencana yang tersusun rapi dan penuh perhitungan tak akan ada artinya jika tanpa tindakan segera. Maka pesan buku ini sangat jelas, segera bertindak setelah selesai membacanya.

Buku ber-cover warna kuning dengan gambar seorang ayah dan dua anaknya layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mencoba usaha sendiri di rumah. Apalagi para karyawan kantoran yang sudah merasa jenuh atau kariernya mentok, sangat disarankan membaca buku ini. Siapa tahu kesuksesan justru akan datang dari rumah.


Tulisan ini telah ditayangkan di KabarIndonesia

الأربعاء، أبريل 14، 2010

Wasjudi, Perantau Tangguh dari Balapulang

Yayasan Pendidikan Sekolah Islam Al Syukro Ciputat pada Sabtu pagi di bulan Desember 2004 itu masih tampak sepi. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar obrolan dua orang yang sepertinya tengah membersihan kelas. Sumber suara itu ternyata Pak Warno, seorang karyawan senior. Sambil membersihkan kaca jendela dia bercakap-cakap dengan Wasjudi, karyawan baru, yang tengah menyapu lantai sebuah kelas di hari pertama kerjanya.

Saat itu, Wasjudi baru datang dari kampung dan langsung memulai melakukan pekerjaan sebagai cleaning service di lembaga pendidikan tersebut. Berkat jasa baik Pak Warno, dia bisa diterima bekerja di sana. Pria berbadan bongsor dan berkulit hitam itu tak perlu berpikir panjang saat Pak Warno menawarkan pekerjaan. Meski memiliki ijazah STM Pertanian, namun dia sadar bahwa tidak mudah mencari pekerjaan di Jakarta. Maka diterimalah pekerjaan sebagai petugas kebersihan itu.  

Pria kelahiran Tegal,  18 Juni 1975 itu termasuk sosok yang ramah dan mudah bergaul. Di lingkungan kerja, dia bergaul dengan siapa saja. Para guru dan karyawan sekolah Al Syukro tak asing lagi dengan sosok yang satu itu. Bahkan Pria yang humoris itu begitu dikenal di kalangan orang tua siswa.

Selain ramah dan humoris, Wasjudi juga dikenal sebagai sosok yang rajin, ulet dan pantang menyerah. Dia rajin melakukan tugasnya sebagai cleaning service. Bahkan dia sering masuk di hari Sabtu dan Minggu untuk membersihkan ruang-ruang kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Dia bekerja tujuh hari dalam satu minggu. Dia rela tidak libur demi tugas dan tanggung jawab yang diembannya.

Sadar akan penghasilannya sebagai seorang cleaning service, dia pun mencari pekerjaan sambilan. Dia pernah mengumpulkan bekas gelas air mineral yang berserakan di Kampus Sekolah Al Syukro untuk dijual. Meski tidak seberapa banyak uang yang dia kumpulkan dari barang bekas itu, namun baginya cukup lumayan untuk sekadar membeli beberapa bungkus rokok. Dengan begitu, dia tidak perlu mengutak-atik gaji jatah istri untuk sekadar memenuhi kegemarannya merokok.

Selain itu, dia juga pernah menjadi penyalur pembantu rumah tangga (PRT). Bermodalkan jaringan yang telah dia bangun dari bergaul dengan kalangan orang tua siswa, dia memberanikan diri untuk menawarkan jasa menyediakan tenaga pembantu rumah tangga. Suatu kali usai lebaran, dia kembali dari kampung dengan dua belas calon pembantu rumah tangga. Sebelum di kirim ke para pemesan, Wasjudi memberi pembekalan dan pengarahan.

Belakangan kegiatan itu tidak lagi dijalankannya. Beberapa orang pemakai jasanya merasa kecewa lantaran para PRT itu tidak betah. Bahkan beberapa diantaranya tidak bisa dipercaya. Satu persatu para PRT itu kembali ke kampung. Akhirnya Wasjudi pun gigit jari.

Meski demikian, Wasjudi bukanlah orang yang mudah patah semangat. Dia adalah sosok yang gigih. Suami dari Sarifah dan bapak dari Muhammad Irham itu tetap tersenyum meski kegagalan dan kesulitan menghampirinya. Dia memiliki slogan yang unik dan menarik yaitu, ”Mari kita mainkan!”. Begitu uniknya, teman-temannya sering menirukan slogan itu.

Pagi itu, ketika suasana masih sepi karena belum banyak karyawan yang datang, Wasjudi sudah memulai tugasnya membersihkan ruangan meski dia baru saja tiba dari kampung. Dia begitu menghargai waktu sebagaimana pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Maka ketika baru tiba di ibu kota, dia tak mau membuang-buang waktu lagi. Segera dia menyambut baik kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan dengan melaksanakan tugas. Waktu memang begitu berharga. Oleh karena itu, seperti slogan yang diyakini Wasjudi, "Mari kita mainkan!".

Tulisan ini telah ditayangkan di KabarIndonesia

الاثنين، أبريل 12، 2010

Paijo, Potret Kaum Urban

Orang memanggilnya Paijo. Jarang yang tahu kalau pria kelahiran Somagede, Banyumas, 14 Februari 1970 itu memiliki nama asli Ahmad Sanrohmadi. Konon dulu ada seorang tokoh bernama Paijo pada sebuah film yang ditayangkan TVRI tahun 80-an. Kebetulan wajah dari Ahmad Sanrohmadi itu mirip tokoh Paijo di film itu. Maka dipanggillan Ahmad Sanrohmadi itu sebagai Paijo.

Karena ketidakmampuan kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan, maka dia hanya menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Somagede pada tahun 1982. Dengan berbekal keberanian, dia mencoba mengadu nasib di ibu kota di tahun 1988. Pekerjaan pertama yang dilakukan adalah mengantar dan menjemput anak sekolah. Sadar akan sulitnya hidup di Jakarta, pekerjaan apapun dia lakukan. Mulai dari berjualan gorengan, kerupuk, bubur ayam, menjadi tukang becak dan tukang pijat pernah dilakukan.

Saat di Ciputat tahun 1999, pria penggemar kopi itu bertemu dengan Bapak Sunindiyo (Alm), sosok yang kemudian banyak memberikan pembelajaran kehidupan. Selain menjadi Bos, Pak Sunindiyo juga menjadi guru dan sekaligus orang tua bagi Paijo. Paijo kecil saat itu diajari bagaimana membersihkan halaman rumah, memotong rumput, membetulkan atap yang bocor, hingga menyetir mobil. Maka tidak salah jika akhirnya Paijo merasa menjadi bagian dari keluarga itu meski sudah tidak bekerja lagi di sana.

Melihat anak buahnya begitu rajin dan ulet, Pak Sunindiyo menawarkan pekerjaan di sanggar Guruh Soekarno Putra (GSP) pada tahun 1994. Sebagai seorang pemuda yang memiliki semangat dan keinginan, Paijo menerima tawaran itu. Di sana, dia bekerja di bagian kostum. Empat tahun bertahan di sana sebelum akhirnya berhenti di tahun 1998. Setelah itu, dia memberanikan diri merantau ke Sumatera Barat untuk bekerja di kebun sawit. Namun suami dari Sunarsih itu hanya bertahan empat bulan di sana.

Barangkali memang sudah jodohnya, dia akhirnya kembali ke Ciputat di tahun 1999. Dia kembali ke bosnya yang lama, Pak Sunindiyo. Berkat jasa salah seorang temannya yaitu Pak Suwarno, dia akhirnya diterima bekerja di Sekolah Islam Al Syukro Ciputat sebagai tukang kebun di tahun 2006 hingga sekarang.

Menurut Bapak dari empat anak itu, bekerja itu apa saja yang penting halal dan bisa menjalankannya. Apa yang dikatakannya bukan hanya sekadar nasehat karena berbagai profesi telah dilakoni pria bersahaja itu. Berbagai pengalaman telah menempanya menjadi sosok yang kuat, gigih, dan pantang menyerah.

Selain itu, pengalaman juga telah membuatnya menjadi lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan. Meski hanya berpendidikan SD, namun Paijo pandai dalam menghadapi ujian-ujian kehidupan. Saat rumah tangganya mengalami masalah lantaran kondisi ekonomi, dia menghadapinya dengan kesabaran yang luar biasa. Dia mampu menyembunyikan semua itu. Tak pernah mengeluh.

PROFIL:

Nama : Ahmad Sanrohmadi (Paijo)
Tempat/tanggal lahir: Banyumas, 14 Februari 1970
Alamat : Jl. Otista Raya Gg. H. Ma’ung No. 30 Ciputat
Agama : Islam
Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)
Pekerjaan : Tukang Kebun (Gardener) di Sekolah Islam Al Syukro
Orang tua : Bapak : Tayasa Ibu: Lasinem
Istri : Sunarsih
Anak :
1. Eti Sinta Dewi
2. Agus Nurdiwan
3. Agus Supendi
4. Sepia

Tulisan ini telah ditayangkan di KabarIndonesia

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...