الخميس، أبريل 19، 2012

Menulis Pengalaman: Terima kasih Pak Serka Subardi dan Peltu Mukti

Latihan Dasar Keprajuritan (LDK) bagi mahasiswa baru angkatan tahun 1986 telah berjalan dua hari. Meski baru dua hari, saya jatuh sakit karena kerasnya latihan ala militer itu. Selain itu stamina saya juga terkuras karena harus bolak-balik menempuh perjalanan 45 km. Berangkat jam enam pagi dan pulang jam enam sore membuat badan rentan masuk angin.

Adalah Sersan Kepala (Serka) TNI Subardi yang memintakan izin kepada Peltu TNI Mukti untuk saya menginap di rumah dinas beliau, di Asrama Batalyon Purwokerto. Serka Subardi adalah komandan Peleteon di mana saya mengikuti LDK. Sedangkan Peltu Mukti yang saya tahu adalah teman Serka Subardi. Saya tidak tahu Kedua anggota TNI itu dari kesatuan mana. Saya hanya tahu bahwa keduanya adalah orang yang sangat baik hati.

Sekitar tiga hari hingga sisa pelaksanaan LDK selesai saya menginap di sana. Selama menginap di sana, saya hampir tidak pernah keluar kamar. Makan malam dan minum bahkan pembantu yang mengantarkannya ke kamar  saya. Begitu juga saat sarapan pagi. Bukan hanya pembantu, terkadang justru putrid Pak Mukti sendiri yang mengantarkan. Saya memang seorang pemuda yang miskin dan sangat pemalu.

Pak Peltu Mukti mempunyai empat orang anak, dua putra dan dua putri. Saat itu, yang putra sudah kuliah di Unsoed. Sedangkan dua putrinya masih duduk di bangku SMP.Saya sendiri jarang bertemu dengan Pak Peltu Mukti. Saya hanya bertemu dengan pembantu dan putrinya saat mengantarkan makan dan minum untuk saya. Sesekali saya menyempatkan ke ruang tamu untuk menonton televisi di malam hari. Namun nampaknya rumah itu terasa sepi.

Ketika LDK selesai dan mau berpamitan saya tidak sempat menemui tuan rumah. Saya hanya berpamitan ke pembantunya, seorang ibu setengah baya. Kata ibu itu, Pak Mukti sekeluarga sedang pulang kampung ke Pati. Saya hanya menitip salam dan ucapan terima kasih untuk pak Peltu Mukti selekuarga.
Setelah LDK selesai, perkuliahan pun dimulai. Saya kembali melaju setiap hari, Kembangan-Purwokerto. Demi menghemat biaya, saya beberapa kali berjalan kaki dari terminal Purwokerto ke kampus Unsoed di Grendeng. Entah berapa kilometer, karena saya hanya tahu jarak itu saya tempuh dengan berjalan kaki selama 25-30 menit.
Sebenarnya perjalanan antara terminal menuju kampus melewati Asrama Batalyon Purwokerto. Terbersit di hati ingin mampir ke rumah Pak Peltu Mukti untuk sekadar bersilaturahmi dan mengucapkan terima kasih. Tetapi niat baik itu kalah oleh rasa malu yang senantiasa berkecamuk di dalam diri ini.

Dua puluh enam tahun telah berlalu. Saat saya mengingat hal itu, ada segumpal rasa penyesalan dalam hati. Mengapa setelah itu, saya tak mau menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Serka Subardi sebagai salah seorang pelatih LDK, sudi dan mau merepotkan diri menolong salah seorang peserta yang belum lama dikenalnya. Dengan penuh perhatian, beliau sampai mencarikan tempat menginap sementara untuk saya.

Begitu pun dengan Peltu Mukti. Meski saya jarang sekali bertemu beliau, namun saya pastikan beliu juga orang yang sangat baik hati dan bijaksana. Kalau tidak, mana mungkin mau menampung seorang pemuda miskin dari kampung yang tak jelas juntrungannya. Lebih dari itu kedua putrinya yang saat itu masih SMP juga sangat baik hati. Mereka mau mengantarkan makan dan minum ke kamar saya. Padahal kalau dipikir, memangnya saya ini siapa? Sungguh ada rasa malu jika saya mengingatnya.

Saya memang tak sampai selesai kuliah di Unsoed Purwokerto. Saya memilih keluar dan merantau ke Jakarta dari pada pusing saat harus membayar SPP tiap semester. Jadilah saya seorang karyawan di sebuah sekolah swasta yang kerjanya mengetik surat, hingga sekarang. Alhamdulillah, apapun itu tetap saya syukuri.

Meski begitu, saya tak akan pernah melupakan kebaikan mereka. Serka Subardi dan Peltu Mukti beserta keluarga dan pembantunya. Terima kasih saya  ucapkan untuk mereka semua. Mohon maaf karena saat itu saya cuek dan kurang peduli. Bukan saya tak tahu diri dan tahu berterima kasih, tapi karena saya sangat malu. Saya hanya berdoa, semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda bagi mereka. Amiin.

Catatan: Saya agak lupa tuan rumah tempat saya menginap, saya ragu Peltu Mukti atau Mufti. Saya telah menyebutkan Peltu Mukti, namun jika salah, saya mohon maaf.

هناك تعليقان (2):

  1. asyik juga tulisannya, semoga terima kasih anda sampai pada yg brsangkutan. . . . . . .

    ردحذف
  2. Amiin, Semoga. Terima kasih Mas Ian Supriyanto

    ردحذف

Daftar Bupati Purbalingga

DAFTAR BUPATI PURBALINGGA Foto: Dyah Hayuning Pratiwi, Bupati Purbalingga (medcom.id) Tahukah Anda, bupati Purbalingga saat ini y...